Minggu, 24 Mei 2015

EVALUASI KEGIATAN
BELAJAR BERMAIN CONGKLAK

Kelompok tampil untuk mempresentasikan laporan kegiatan belajar bermain congklak sebagai kelompok ke tiga. Pertama-tama kelompok menyajikan hasil kegiatan, namun pada saat presentasi salah satu anggota kelompok tidak hadir. Saat proses presentasi,terjadi beberapa kendala yang menghambat salah satunya mati lampu yang menyebabkan kelompok kebingungan untuk menyajikan materi yang ingin disampaikan. Kelompok juga lalai karena terlupa menampilkan hasil dokumentasi saat mempresentasikan laporan kegiatan. Setelah presentasi selesai, kelompok membuka sesi tanya jawab. Di sesi tanya jawab tiga orang mahasiswa bertanya yaitu:
  1. Rizky Nugroho : Mengapa kelompok memutuskan untuk memberikan reward di hari H bukankah sebelumnya reward sudah harus dipertimbangkan dan bagaimana dengan anggaran dananya?
Sebenarnya anggaran dana sudah ada di konsep dan sudah dipikirkan oleh kelompok dari awal hanya saja anak-anak meminta rewad berupa permainan odong-odong.Untuk menyenangkan anak-anak maka kelompok menuruti keinginan anak-anak untuk bermain odong-odong.
  1. Riza Indri : Mengapa kelompok memilih anak berusia 7-11 tahun bukankah anak hanya berusia dari 0-6 tahun? Bagaimana kelompok mengajar dan membagi kelompok dengan usia yg berbeda-beda tersebut?
Anak yang dajarkan oleh kelompok dengan usia 7-11 tahun masih termasuk kedalam kategori anak-anak. Umur mereka bervariasi dan saat proses belajar anak dipasangkan dengan ak lain yang usia dan kemampuannya hampir sama. Seperti contohnya, Riri Natasya 8 tahun dan Arif Hidayat 11 tahun dipasangkan karena jarang usia tidak terlalu jauh dan kemampuan Riri bisa dikatakan setara dengan Arif. 
Arif Hidayat    11 tahun
M.Zaky            8 tahun
Riri Natasya    8 tahun
Rafie Ahmad   7 tahun
  1. Nadine Lobian : Mengapa kelompok memilih tempat yang mudah mengalihkan konsentrasi anak?
Kelompok memilih tempat tersebut karena selain ada kekurangannya tempat tersebut juga memiliki keuntungan yaitu anak menjadi tidak mudah bosan karena ada banyak hal yang bisa membuat anak senang seperti jajanan, anak-anak yang ramai, permainan, air mancur dan lain-lain.
Kemudian kelompok juga diberi evaluasi oleh dosen pengampu, evaluasinya yaitu:
  1. Bagaimana sistem pembagian peran kelompok dalam melaksanakan proses pengajaran bermain congklak?
  • Pengajar mengenai permainan congklak: Arifa Ulia Bahri
  • Pengajar cara bermain congklak: Mariah Ulfah dan Rika Arcella Putri
  • Dokumentasi : Khairunnisa Azhari
  • Perlengkapan : Imam Mustakim
  • Pemandu anak bermain dalam tim: semua anggota kelompok
  • Pembuatan konsep dan laporan : semua anggota kelompok
  1. Jelaskan mengenai aturan bermain congklak secara mendetail?
Aturan bermain congklak yaitu, congklak terdiri dari 2 jenis lubang. Lubang besar dan lubang lecil, lubang besar ada 2 buah Yang disebut dengan lumbung dan lubang kcil terdiri dari 14 buah. Kemudian setiap lubnag kecil diisi batu congklak sebanyak 7 buah perlubang. Pemain berada disetiap sisi congklak dan lumbung sebelah kanan dipemain merupakan lumbung mililknya begitu sebaliknya. Pemain yang mendapat giliran jalan pertama kali mengilirkan tiap batu disetiap lubang kecil dan lumbung miliknya. Batu terakhir yang berhenti dilubang lubang kosong area lawan makan akan berhenti disitu dan dilanjutkan oleh lawan. Jika batu terakhir berhenti dilubang kecil area sendiri maka berhenti dan digantikan pemain lawan dengan syarat batu yang ada didepan tempat batu terakhir tadi diambil dan dimasukkan ke lumbung kita (yang disebut dengan tembak). Dalam permainan ini seseorang dikatakan menang jika setelah permainan selesai dan batu dibagikan kembali kembali kesetiap lubang kecil lubang kecil diarea kita terpenuhi dan masih ada sisa batu dilumbung milik kita, dengan kata lain pemenangnya adalah yang memiliki biji paling banyak dilumbungnya.
  1. Apa kualifikasi anak dapat dikatakan pemenang dan kualifikasi anak dikatakan mampu dalam permainan congklak?
Kelompok menghitung biji yang ada di lumbung masing-masing anak, lumbung dengan biji terbanyak keluar sebagai pemenangnya, pertandingan hanya dilakukan satu ronde permainan congklak. Kelompok menganggap anak sudah mampu dengan cara terlebih dahulu menanyakan kepada anak apakah iya mengerti apa yang dijelaskan kelompok, kemudian langsung dipraktekkan oleh anak itu sendiri. Kelompok melihat apa anak sudah bisa bermain sendiri tanpa di instruksikan atau dibimbing oleh kelompok lagi.
  1. Apa konsep pedagogi dalam proses pengajaran ini?
Konsep pedagogi paling mendasar adalah bahwa pedagogi merupakan pembelajaran anak-anak dibimbing oleh orang dewasa yang bertanggungjawab. Dalam hal ini, kelompok sebagai orang dewasa yang bertanggungjawab memberikan sebuah pelajaran kepada anak-anak. Anak-anak, memiliki tiga lingkungan yang sangat berpengaruh baginya yaitu jeluarganya, pendidikannya, dan sekolahnya. Lingkungan pendidikan anak mengatakan bahwa pengajaran yang didapatkan anak sesungguhnya bukan hanya di konteks formal tetapi anak harus mendapatkan pelajaran disemua aspek kehidupannya. Tidak hanya pelajaran berupa akademis saja yang iya butuhkan. Oleh karena itu kelompok memberi pelajaran berupa permainan congklak ini yang bersifat bukan akademis tetapi juga dibutuhkan oleh anak. 
Selain itu, dalam proses pengajaran bermain congklak ini, juga disesuaikan dengan asumsi bahwa anak dalam belajar harus mengalaminya lagsung agar apa yang iya pelajari berguna baginya dimasadepan, bukan hanya sekedar teori belaka. Pengajaran bermain congklak ini juga mengandung konsep ZPD yang dikemukakan oleh Vgotsky yaitu, dalam belajar anak harus diberikan dukungan yang secara bertahap dikurangi ketika anak sudah mulai dinggap mampu melakukan suatu tugas.
  1. Deskripsi tempat secara mendetail?dan jelaskan alasan mengapa memilih tempat tersebut sebagai tempat proses pembelajaran?
Jl. Almamater, Pintu Tiga USU (Taman Biro Rektor USU), Lokasi pembelajaran di lakukan ditaman biro rektor sebelah kiri disalah satu pondok dekat pohon bambu yaitu pondok pertama dari pintu masuk parkiran biro rektor.
  1. Mengapa memilih tempat yang mengganggu konsentrasi dan perhatian peserta didik? Dan apa penyebab perhatian anak yang teralih?
Seharusnya kelompok mengadakan proses pembelajaran di salah satu rumah anggota kelompok, namun karena adanya halanga sehingga kelompok akhirnya tidak bisa membuat pengajaran dirumah tersebut. Akhirnya kelompok memilih lokasi tersebut dengan pertimbangan agar anak tidak bosan dan karena proses pembelajaran. Kelompok mengasumsikan tempat yang dipilih bisa membuat anak-anak tidak bosan dan suasana menjadi tidak monoton. Selain itu karena anak-anak tersebut sepertinya butuh suatu hiburan dihari libur mereka. Di tempat yang kelompok pilih, perhatian anak-anak teralih pada jajanan yang lewat (eskrim, bakso, tahu, dan lain-lain), ramainya anak-anak lain, air mancur, rusa dan odong-odong. Tetapi anak hanya teralih sebentar lalu kemudian kembali belajar bermain congklak.
  1. Apa reward yang diberikan dan mengapa anak yang memilih reward yang akan diberikan oleh kelompok?
Reward sudah ada di konsep kelompok namun dalam pelaksanaannya anak-anak memilih reward berupa permainan odong-odong setelah menyelesaikan proses pembelajaran. Nah, mengapa anak mengetahui bahwa disekitar situ ada odong-odong sehingga mereka meminta untuk bermain odong-odong? Jadi, beberapa anak ingin pergi ke toilet, depan toilet tersebutlah anak-anak melihat odong-odong dan meminta untuk naik odong-odong kepada kelompok. Itulah alasan kelompok memberikan reward berupa naik odong-odong kepada anak-anak selama 15 menit dan anak juga mendapatkan 1 buah balon.
HASIL EVALUASI
  1. Latar Belakang
Congklak adalah suatu permainan tradisional yang dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh indonesia. Biasanya dalam permainan, sejenis cangkang kerang digunakan sebagai biji congklak dan jika tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan. Permainan congklak adalah salah satu permainan daerah yang hampir punah. Sangat sedikit anak-anak jaman sekarang yang pernah memainkan permainan congklak ini. Kami ingin mengajarkan permainan ini kepada beberapa anak selain untuk memenuhi tugas kelompok pedagogi juga untuk melestarikan salah satu permainan daerah yaitu permainan congklak ini.
  1. Landasan teori
Konsep pedagogi paling mendasar adalah bahwa pedagogi merupakan pembelajaran anak-anak dibimbing oleh orang dewasa yang bertanggungjawab. Dalam hal ini, kelompok sebagai orang dewasa yang bertanggungjawab memberikan sebuah pelajaran kepada anak-anak. Anak-anak, memiliki tiga lingkungan yang sangat berpengaruh baginya yaitu jeluarganya, pendidikannya, dan sekolahnya. Lingkungan pendidikan anak mengatakan bahwa pengajaran yang didapatkan anak sesungguhnya bukan hanya di konteks formal tetapi anak harus mendapatkan pelajaran disemua aspek kehidupannya. Tidak hanya pelajaran berupa akademis saja yang iya butuhkan. Oleh karena itu kelompok memberi pelajaran berupa permainan congklak ini yang bersifat bukan akademis tetapi juga dibutuhkan oleh anak.  Selain itu, dalam proses pengajaran bermain congklak ini, juga disesuaikan dengan asumsi bahwa anak dalam belajar harus mengalaminya lagsung agar apa yang iya pelajari berguna baginya dimasadepan, bukan hanya sekedar teori belaka. Pengajaran bermain congklak ini juga mengandung konsep ZPD yang dikemukakan oleh Vgotsky yaitu, dalam belajar anak harus diberikan dukungan yang secara bertahap dikurangi ketika anak sudah mulai dinggap mampu melakukan suatu tugas.
  1. Aktivitas
C.1 Konsep
Pedagogi adalah pengajaran oleh orang dewasa yang bertanggungajawab. Banyak jenis pengajaran yang bisa orang dewasa berikan kepada anak-anak, seperti pengajaran matematika, biologi, fisika, permainan, dan pengajaran lainnya yang membuat anak yang diajari dapat mamahami apa yang diajarkan oleh orang dewasa tersebut (understanding). Pembelajaran yang didapatkan anak tidak hanya terbatas pada pembelajaran di lingkungan formal saja atau di sekolah. Tetapi mencakup semua pembelajaran di ketiga lingkungan anak yang berguna baginya. Ketiga lingkungan tersebut yaitu, keluarga, pendidikan, dan sekolah. Sesuai dengan pengertian pedagogi secara praktis, bahwa pembelajaran anak harus bersifat empiris,anak harus mengalami langsung proses pembelajaran agar anak mendapat pengalaman dan berguna baginya dimasa depan. Oleh karena itu, kelompok ingin langsung bermain bersama sambil mengajarkan permainan Congklak dengan anak. Serta memberi pemahaman.
Cara Bermain:
Permainan congklak dilakukan oleh dua orang. Dalam permainan mereka menggunakan papan yang dinamakan papan congklak dan 98 (14 x 7) buah biji yang dinamakan biji congklak atau buah congklak. Umumnya papan congklak terbuat dari kayu dan plastik, sedangkan bijinya terbuat dari cangkang kerang, biji-bijian, batu-batuan, kelereng atau plastik. Pada papan congklak terdapat 16 buah lobang yang terdiri atas 14 lobang kecil yang saling berhadapan dan 2 lobang besar di kedua sisinya. Setiap 7 lobang kecil di sisi pemain dan lobang besar di sisi kananya dianggap sebagai milik sang pemain.
Pada awal permainan setiap lobang kecil diisi dengan tujuh buah biji. Dua orang pemain yang berhadapan, salah seorang yang memulai dapat memilih lobang yang akan diambil dan meletakkan satu persatu biji ke lobang di sebelah kanannya dan seterusnya. Bila biji habis di lobang kecil yang berisi biji lainnya, ia dapat mengambil biji-biji tersebut dan melanjutkan mengisi, bila habis di lobang besar miliknya maka ia dapat melanjutkan dengan memilih lobang kecil di sisinya. Bila habis di lubang kecil di sisinya maka ia berhenti dan mengambil seluruh biji di sisi yang berhadapan. Tetapi bila berhenti di lobang kosong di sisi lawan maka ia berhenti dan tidak mendapatkan apa-apa. Permainan dianggap selesai bila sudah tidak ada biji lagi yang dapat diambil (seluruh biji ada di lobang besar kedua pemain). Pemenangnya adalah yang mendapatkan biji terbanyak.
Sasaran : 4 orang anak usia 7-11 tahun dan belum pernah bermain congklak.
Lokasi : Jl. Jamin Ginting No. 230 Medan
Waktu : Minggu, 5 April 2015
Perlengkapan :
  • 2 buah papan congklak
  • Biji congklak
  • Kamera
  • Alat tulis
Anggaran dana :
  • ongkos  Rp. 20.000,-
  • papan congklak 2 x Rp. 15.000,-
  • reward  Rp. 20.000,-
Rencana pembelajaran:
  • Perkenalan oleh anggota kelompok dengan keempat anak yang akan belajar bermain congklak
  • demonstrasi bermain congklak oleh anggota kelompok
  • belajar bermain congklak, anak-anak diajari cara, aturan, serta strategi bermain congklak
  • anak-anak bermain congklak seperti yang sudah dipelajari dibimbing oleh anggota kelompok.
  • Penutupan dan pemberian cindera mata.
C.2 Target
Target yang ingin dicapai dalam pembelajaran ini adalah
  • Anak mendapat pembelajaran baru yaitu mengenai permainan congklak.
  • Anak mampu bermain congklak
  • Anak memahami bahwa permainan daerah perlu dipelajari untuk melestarikannya sebagai warisan budaya.
C.3 Pelaksanaan
Waktu: - Hari :Minggu 19 April 2015
 - Pukul: 10.00 – 13.00 WIB
 -Tempat : Jl. Almamater, Pintu Tiga USU (Taman Biro Rektor USU), Lokasi    pembelajaran di lakukan ditaman biro rektor sebelah kiri disalah satu pondok dekat pohon bambu yaitu pondok pertama dari pintu masuk parkiran biro rektor.
Anak didik : 4 orang anak usia 7- 11 tahun, yaitu
  1. Rafie Ahmad (7 tahun)
  2. Riri Natasya (8 tahun)
  3. M. Zaky (8 tahun)
  4. Arif Hidayat (11 tahun)
Proses:
Kelompok tiba di tempat pukul 10.00 WIB. Setibanya di tempat masing-masing anggota kelompok berkenalan dengan keempat anak. Berikutnya kelompok memperkenalkan permainan congklak serta memberi pemahaman mengenai permainan congklak. Kemudian kelompok mengajari anak-anak cara bermain congklak.
Pengajaran dilakukan bertahap, yaitu pertama-tama demonstarsi bermain congklak oleh anggota kelompok, lalu anak diajari satu persatu sambil bermain langsung dengan anggota kelompok. Hal tersebut diulangi sampai anak bisa bermain congklak. Setelah mereka bisa, anak dibagi kedalam dua tim untuk bermain sendiri tetapi masih dipandu oleh anggota kelompok. Dan setelah mereka dianggap mampu bermain sendiri, masing-masing tim berkompetisi tanpa dipandu lagi oleh anggota kelompok. Anak dianggap mampu oleh kelompok ketika mereka sudah menyatakan mengerti dan bisa bermain congklak tanpa dipandu oleh kelompok dan sudah benar-benar mengerti peraturan bermain congklak ketika mereka bermain ditandingkan.
Pengajaran tersebut diselingi dengan bermain, bersenda gurau, makan, bercerita agar anak tidak bosan dan merasa tertekan dengan pembelajaran yang diberi oleh kelompok. Dalam proses belajar anak beberapa kali hilang konsentrai karena beberapa hal yang iya lihat disekitarnya. Yaitu, banyaknya jajanan, adanya anak-anak lain yang bermain disekitar lokasi, kebun binatang birek, air mancur, dan permainan anak-anak disekitar lokasi. Ketika melihat jajanan berupa eskrim lewat, perhatian anak langsung teralih dan berlari menuju eskrim tersebut. Kemudian ketika perhatian anak teralih saat seorang anak dari sebuah keluarga datang ke lokasi belajar karena tertarik dengan permainan congklak. Namun, hal tersebut tidak terlalu menjadi kendala yang besar karena masih bisa diatasi oleh kelompok. Pembelajaran selesai di pukul 13.00 diakhiri dengan pemberian reward kepada anak-anak yaitu bermain odong-odong sesuai dengan keinginan anak-anak.
Pembagian peran kelompok :
  • Pengajar mengenai permainan congklak: Arifa Ulia Bahri
  • Pengajar cara bermain congklak: Mariah Ulfah dan Rika Arcella Putri
  • Dokumentasi : Khairunnisa Azhari
  • Perlengkapan : Imam Mustakim
  • Pemandu anak bermain dalam tim: semua anggota kelompok
  • Pembuatan konsep dan laporan : semua anggota kelompok
  1. Evaluasi dan saran
D.1 Evaluasi kegiatan
Kendala yang dialami dalam proses pembelajaran adalah penyesuaian jadwal dengan anak—anak. Karena dihari senin sampai sabtu pagi hari mereka masih bersekolah sehingga jadwal yang bisa dilakukan hanya dihari minggu dan kelompok harus menyesuaikan dengan jadwal perkuliahan sehingga jadwal mundur dua minggu dari yang direncanakan. Kemudian tempat yang dipilih oleh kelompok merupakan tempat yang ramai jadi kemungkinan anak untuk tidak fokus semakin besar. Tetapi pemilihan tempat ini juga menjadi salah satu  daya tarik bagi anak-anak karena terdapat banyak hiburan ( kebun binatang, air mancur, dll) dan makanan (es krim, gorengan, dll). 
C.2 Saran kegiatan
Sebaiknya kelompok lebih mempersiapkan dan memperhitungkan jadwal dan tempat yang sesuai untuk anak-anak dan  anggota kelompok.

Senin, 27 April 2015

PEDAGOGI

BELAJAR BERMAIN CONGKLAK
A.    Latar Belakang
Congklak adalah suatu permainan tradisional yang dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh indonesia. Biasanya dalam permainan, sejenis cangkang kerang digunakan sebagai biji congklak dan jika tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan. Permainan congklak adalah salah satu permainan daerah yang hampir punah. Sangat sedikit anak-anak jaman sekarang yang pernah memainkan permainan congklak ini. Kami ingin mengajarkan permainan ini kepada beberapa anak selain untuk memenuhi tugas kelompok pedagogi juga untuk melestarikan salah satu permainan daerah yaitu permainan congklak ini.
B.     Aktivitas
B.1 Konsep
Pedagogi adalah pengajaran oleh orang dewasa yang bertanggungajawab. Banyak jenis pengajaran yang bisa orang dewasa berikan kepada anak-anak, seperti pengajaran matematika, biologi, fisika, permainan, dan pengajaran lainnya yang membuat anak yang diajari dapat mamahami apa yang diajarkan oleh orang dewasa tersebut (understanding). Pembelajaran yang didapatkan anak tidak hanya terbatas pada pembelajaran di lingkungan formal saja atau di sekolah. Tetapi mencakup semua pembelajaran di ketiga lingkungan anak yang berguna baginya. Ketiga lingkungan tersebut yaitu, keluarga, pendidikan, dan sekolah. Sesuai dengan pengertian pedagogi secara praktis, bahwa pembelajaran anak harus bersifat empiris,anak harus mengalami langsung proses pembelajaran agar anak mendapat pengalaman dan berguna baginya dimasa depan. Oleh karena itu, kelompok ingin langsung bermain bersama sambil mengajarkan permainan Congklak dengan anak. Serta memberi pemahaman
Cara Bermain:
Permainan congklak dilakukan oleh dua orang. Dalam permainan mereka menggunakan papan yang dinamakan papan congklak dan 98 (14 x 7) buah biji yang dinamakan biji congklak atau buah congklak. Umumnya papan congklak terbuat dari kayu dan plastik, sedangkan bijinya terbuat dari cangkang kerang, biji-bijian, batu-batuan, kelereng atau plastik. Pada papan congklak terdapat 16 buah lobang yang terdiri atas 14 lobang kecil yang saling berhadapan dan 2 lobang besar di kedua sisinya. Setiap 7 lobang kecil di sisi pemain dan lobang besar di sisi kananya dianggap sebagai milik sang pemain.
Pada awal permainan setiap lobang kecil diisi dengan tujuh buah biji. Dua orang pemain yang berhadapan, salah seorang yang memulai dapat memilih lobang yang akan diambil dan meletakkan satu persatu biji ke lobang di sebelah kanannya dan seterusnya. Bila biji habis di lobang kecil yang berisi biji lainnya, ia dapat mengambil biji-biji tersebut dan melanjutkan mengisi, bila habis di lobang besar miliknya maka ia dapat melanjutkan dengan memilih lobang kecil di sisinya. Bila habis di lubang kecil di sisinya maka ia berhenti dan mengambil seluruh biji di sisi yang berhadapan. Tetapi bila berhenti di lobang kosong di sisi lawan maka ia berhenti dan tidak mendapatkan apa-apa. Permainan dianggap selesai bila sudah tidak ada biji lagi yang dapat diambil (seluruh biji ada di lobang besar kedua pemain). Pemenangnya adalah yang mendapatkan biji terbanyak.
Sasaran : 4 orang anak usia 7-11 tahun dan belum pernah bermain congklak.
Lokasi : Jl. Jamin Ginting No. 230 Medan
Waktu : Minggu, 5 April 2015
Perlengkapan :
·         2 buah papan congklak
·         Biji congklak
·         Kamera
·         Alat tulis
Anggaran dana :
·         ongkos  Rp. 20.000,-
·         papan congklak 2 x Rp. 15.000,-
·         cindera mata Rp. 20.000,-
Rencana pembelajaran:
·         Perkenalan oleh anggota kelompok dengan keempat anak yang akan belajar bermain congklak
·         demonstrasi bermain congklak oleh anggota kelompok
·         belajar bermain congklak, anak-anak diajari cara, aturan, serta strategi bermain congklak
·         anak-anak bermain congklak seperti yang sudah dipelajari dibimbing oleh anggota kelompok.
·         Penutupan dan pemberian cindera mata.
B.2 Target
Target yang ingin dicapai dalam pembelajaran ini adalah
·         Anak mendapat pembelajaran baru yaitu mengenai permainan congklak.
·         Anak mampu bermain congklak
·         Anak memahami bahwa permainan daerah perlu dipelajari untuk melestarikannya sebagai warisan budaya.
B.3 Pelaksanaan
Waktu: -Hari :Minggu 19 April 2015
 -Pukul: 10.00 – 13.00 WIB
Tempat : Jl. Almamater, Pintu Tiga USU (Taman Biro Rektor USU)
Anak didik : 4 orang anak usia 7- 11 tahun, yaitu
1.      Rafie Ahmad (7 tahun)
2.      Riri Natasya (8 tahun)
3.      M. Zaky (8 tahun)
4.      Arif Hidayat (11 tahun)
Proses:
Kelompok tiba di tempat pukul 10.00 WIB. Setibanya di tempat masing-masing anggota kelompok berkenalan dengan keempat anak. Berikutnya kelompok memperkenalkan permainan congklak serta memberi pemahaman mengenai permainan congklak. Kemudian kelompok mengajari anak-anak cara bermain congklak.
Pengajaran dilakukan bertahap, yaitu pertama-tama demonstarsi bermain congklak oleh anggota kelompok, lalu anak diajari satu persatu sambil bermain langsung dengan anggota kelompok. Hal tersebut diulangi sampai anak bisa bermain congklak. Setelah mereka bisa, anak dibagi kedalam dua tim untuk bermain sendiri tetapi masih dipandu oleh anggota kelompok. Dan setelah mereka dianggap mampu bermain sendiri, masing-masing tim berkompetisi tanpa dipandu lagi oleh anggota kelompok.
Pengajaran tersebut diselingi dengan bermain, bersenda gurau, makan, bercerita agar anak tidak bosan dan merasa tertekan dengan pembelajaran yang diberi oleh kelompok. Pembelajaran selesai di pukul 13.00 diakhiri dengan pemberian reward kepada anak-anak yaitu bermain odong-odong sesuai dengan keinginan anak-anak.
Pembagian peran kelompok :
1.      Pengajar mengenai permainan congklak: Arifa Ulia Bahri
2.      Pengajar cara bermain congklak: Mariah Ulfah dan Rika Arcella Putri
3.      Dokumentasi : Khairunnisa Azhari
4.      Perlengkapan : Imam Mustakim
5.      Pemandu anak bermain dalam tim: semua anggota kelompok
6.      Pembuatan konsep dan laporan : semua anggota kelompok
C.     Evaluasi dan saran
C.1 Evaluasi
Kendala yang dialami dalam proses pembelajaran adalah penyesuaian jadwal dengan anak—anak. Karena dihari senin sampai sabtu pagi hari mereka masih bersekolah sehingga jadwal yang bisa dilakukan hanya dihari minggu dan kelompok harus menyesuaikan dengan jadwal perkuliahan sehingga jadwal mundur dua minggu dari yang direncanakan. Kemudian tempat yang dipilih oleh kelompok merupakan tempat yang ramai jadi kemungkinan anak untuk tidak fokus semakin besar. Tetapi pemilihan tempat ini juga menjadi salah satu  daya tarik bagi anak-anak karena terdapat banyak hiburan ( kebun binatang, air mancur, dll) dan makanan (es krim, gorengan, dll).
C.2 Saran
Sebaiknya kelompok lebih mempersiapkan dan memperhitungkan jadwal dan tempat yang sesuai untuk anak-anak dan  anggota kelompok. 
Dokumentasi :
video
 

Jumat, 26 Desember 2014

TUGAS KEPRIBADIAN II



Aksi GOKIL + Menantang MAUT !!! = Mendayung Perahu di Antara Lelehan Lava

 

Pernahkah anda terpikirkan untuk melintasi luberan lava dengan perahu dayung?. Aksi menantang bahaya ini dilakukan oleh Pedro Olivia, Chris Korbulic dan Ben Stookesberry dari Brazil yang mengarungi perairan di sekitar lelehan lava merah yang mengalir dari gunung berapi Kilauea, kepulauan Hawaii. Mereka bertiga melakukan ekspedisi menelusuri lingkar gunung api tersebut.

            Namun, itu saja dianggap tidak cukup karena Pedro memutuskan untuk menjelajahi pantai dengan berjalan kaki. Bahkan, dia nekad menguji suhu panas lava sekitar 700 hingga 1100 derajat celcius dengan mencelupkan dayungnya dan segera mengangkatnya sebelum terbakar. Selama seharian, kelompok ini menjelajahi aliran lava dari tebing berketinggian 200 kaki di saat air yang telah bercampur lava merah dengan suhu 50 derajat celcius menerjang ganas.

Dari pengalamannya, Ben mengungkapkan bahwa salah satu ancaman terbesar adalah uap beracun yang dihasilkan saat lava menghempas ke dalam air. Saat itu, air laut bisa membakar kedua tangan mereka.Selama perjalanan, mereka telah menjelajahi 300 air terjun dan sungai di 4 pulau: Big Island, Kauai, Maui dan Oahu. Kilauea adalah salah satu gunung berapi teraktif di dunia.Gunung ini melingkari sisi barat daya Big Island di Hawaii.

Kebanyakan peneliti merujuknya sebagai bagian dari gunung Mauna Loa. Namun berdasarkan data geologi, Kilauea adalah sebuah gunung terpisah. Tercatat ada sebanyak 61 letusan aktif sejak tahun 1983. Ketinggian gunung ini sekitar 4.190 kaki di atas permukaan laut dan mencakup 14 persen wilayah Big Island. Gunung ini memuntahkan lava di sepanjang sisi yang mengalir ke Samudera Pasifik. Berikut ini adalah foto-foto luar biasa dari Pedro dan rekan-rekannya.


Teori Marvin Zuckerman
“Sensation Seeking”    
Menurut Zuckerman, sensation seeking dideskripsikan sebagai kebutuhan untuk bervariasi/beragam, baru, kompleks/rumit, sensasi yang intens dan pengalaman serta kesukarelaan dalam mengambil resiko secara fisik, sosial, legal, dan secara financial demi sebuah pengalaman.
Dengan menggunakan metode factor analysis,Marvin Zuckerman (1983) mengidentifikasikan empat komponen dari sensation seeking :
1.         Thrill and adventure seeking  : Sebuah keinginan untuk terikat dalam aktivitas fisik yang melibatkan kecepatan, bahaya, dan hal yang menantang gravitasi seperti bungee jumping, parachuting dan scuba diving.
2.         Experience seeking  : Mencari pengalaman baru melalui perjalanan, lagu, seni.
3.         Disinhibition  : Kebutuhan untuk mencari aktivitas sosial yang liar.
4.         Boredom susceptibility  : Tidak melakukan  pengalaman yang berulang,Pekerjaan  yang rutin,dan menjadi orang yang dapat diprediksi,dan merasa tidak puas/gelisah jika melakukan pengalama/pekerjaan yang bersifat berulang maupun rutin.
Analisa kasus berdasarkan teori marvin Zuckerman
Dari berita di atas dapat kita lihat bahwa Pedro Olivia, Chris Korbulic dan Ben Stookesberry dari Brazil adalah sensation seeker.Berdasarkan teori marvin Zuckerman tentang sensation seeking bahwa seseorang dapat dikatakan sebagai sensation seeker jika orang tersebut memiliki kebutuhan untuk bervariasi/beragam, baru, kompleks/rumit, sensasi yang intens dan pengalaman serta kesukarelaan dalam mengambil resiko secara fisik, sosial, legal, dan secara financial demi sebuah pengalaman.Ketiga orang ini berani melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukan orang lain,mereka berani menentang bahaya untuk memenuhi kebutuhan akan pengalaman dan sensasi yang baru,selain itu mereka pasti sudah tahu apa resiko dari aksi yang mereka lakukan tetapi mereka tetap melakukannya meskipun sudah tahu apa resikonya,bisa kita katakana bahwa sensation seeker adalah seorang petualang/adventurer.Aksi yang mereka lakukan ini menantang bahaya dan membutuhkan kecepatan dan kecermatan untuk dapat melewatinya,Bayangkan saja mendayung perahu di atas lelehan lava bukanlah hal yang mudah menurut saya itu adalah hal yang “gila”.
Dilihat dari artikel di atas Ben mengungkapkan bahwa salah satu ancaman terbesar adalah uap beracun yang dihasilkan saat lava menghempas ke dalam air. Saat itu, air laut bisa membakar kedua tangan mereka,hal ini membuktikan bahwa komponen pertama dari sensation seeking yaitu thrill and adventure sudah terpenuhi dimana mereka berani menantang dan melakukan aksi yang berbahaya,dan mengancam demi sebuah kepuasan akan pengalaman baru mereka.Kemudian komponen kedua dari sensation seeking yaitu experience seeking juga sudah terpenuhi dimana mereka mencari pengalaman baru melalui perjalanan lagu seni mereka mencari pengalaman melalui kebebasan bereksplorasi tanpa batas dimana mereka melakukan perjalanan ke beberapa air terjun di beberapa pulau dari perjalanan ini mereka menambah pengalaman mereka.Komponen ketiga yaitu Disinhibition:Kebutuhan untuk mencari aktivitas sosial yang liar juga sudah terpenuhi mereka dalam menambah pengalaman dan sensasi mereka melakukan perjalanan ke tempat yang berbahaya dan mengancam ini berarti aktivitas yang mereka lakukan ini bersifat liar.Komponen terakhir dari sensation seeking menurut marvin Zuckerman adalah boredom susceptibility dalam artikel ini perjalanan yang meraka lakukan bersifat bebas dan bukan sesuatu yang bersifat rutin karena mereka melakukan banyak penjelajahan ke banyak tempat bukan hanya di satu tempat saja.
Berdasarkan analisis di atas maka dapat saya simpulkan bahwa artikel ini adalah artikel terkait sensation seeking dan dapat saya katakana baik Pedro Olivia, Chris Korbulic dan Ben Stookesberry adalah sensation seeker.

REFERENSI :


  Schultz dan Schultz. 2005. Theories of Personality