Kamis, 19 Juni 2014

Carl Gustav Jung

TEORI KEPRIBADIAN JUNG

A. ARTI KEPRIBADIAN
            Teori kepribadian Jung membagi psyce (jiwa) menjadi tiga bagian. Yang pertama adalah ego, yang defenisikan oleh Jung sebagai pikiran yang sadar (conscious mind). Yang kedua adalah personal unconscious (ketidaksadaran pribadi), yang didalamnya termasuk apa saja yang sekarang ini tidak sadar, tapi bisa jadi sadar. Dan yang ketiga adalah collective unconscious (ketisaksadaran kolektif) yang juga dapat disebut sebagai “psychic inheritance” (warisan batiniah). Didalam bagian ini (collective unconscious) juga terdapat archetypes (pola-pola dasar)
            Bagi Jung, kepribadian atau psyche (semangat atau jiwa, yang sekarang juga disebut sebagai pikiran) melingkupi semua pikiran, perasaan dan tingkah laku, kesadaran dan ketidaksadaran. Psyche menuntun kita dalam bertadaptasi terhadap kemasyarakatan serta lingkungan fisik kita.
            Melalui psyche, energi mengalir secara kontinyu dengan arah yang beragam dari ketidaksadaran menuju ke kesadaran dan kembali lagi; serta dari dalam ke luar realitas dan kembali lagi. Dapat juga dikatakan kepribadian merupakan integrasi dari ego, ketidaksadaran pribadi dan ketidaksadaran kolektif, kompleks-kompleks, archetype-archetype, persona dan anima.

B. STRUKTUR KEPRIBADIAN

  1. Ego
Ego yang juga disebut sebagai pikiran yang sadar (conscious mind) menyangkut persepsi, berpikir, merasa, dan mengingat. Ego adalah kesadaran kita akan diri kita sendiri dan ego juga yang bertanggung jawab atas aktivitas normal kita dalam kehidupan kita. Ego bertindak dalam cara-cara yang terseleksi dan berlaku dalam kesadaran atas rangsangan-rangsangan yang kita perlihatkan.
Banyak dari persepsi kesadaran kita dan reaksi kita terhadap lingkungan ditentukan oleh pertentangan mental. Jung menyakini bahwa kekuatan/energi batin seseorang dapat diteruskan keluar, menuju dunia luar (extraversion) atau kedalam menuju diri orang itu sendiri (introversion). Dari konsep ini sekarang kita mengenal istilah extravert yaitu seseorang dengan sikap periang/sering berbicara, lebih terbuka dan lebih dapat bersosialisasi. Sementara introvert memiliki sifat pemalu, tidak banyak bicara, dan cenderung berpusat pada diri mereka sendiri.
Menurut Jung tiap orang mempunyai kapasitas yang sama untuk kedua sikap tersebut, tapi salah satunya akan menjadi dominan dalam kepribadian seseorang yang mana nantinya sikap yang dominan itu akan menentukan tingkah laku seseorang tersebut dan kesadarannya. Menurut Jung ada 4 fungsi kejiwaan (psyche) yaitu;
1.      pikiran
2.      perasaan
3.      penginderaan
4.      intuisi
Fungsi jiwa : aktivitas kejiwaan
a.       Fungsi rasional : bekerja dengan penilaian
-pikiran : berdasarkan benar atau salah
-perasaan : menyenangkan atau tidak
b.      Fungsi irasional : melakukan pengamatan
-penginderaan : sadar – indriah
-intuisi : tidak sadar – naluriah
Setiap manusia memiliki semua pasangan komponen tersebut hanya saja satu dominan (bagian kesadaran) dan satu bagian ketidaksadaran.

  1. Ketidaksadaran pribadi (personal unconscious)
Dalam teori Jung, kedua tingkatan dari ketidaksadaran adalah personal unconscious (ketidaksadaran pribadi) dan collective unconscious (ketidaksadaran kolektif). Ketidaksadaran pribadi terdiri dari semua pengalaman yang dilupakan , yang kehilangan intensitasnya karena beberapa alasan, terutama karena tidak menyenangkan, termasuk kesan-kesan yang terlalu lemah untuk diterima dialam sadar.
Ketika kita mengalami lebih banyak pengalaman dalam ketidaksadaran pribadi kita, kita mulai mengelompokkan mereka ke dalam apa yang disebut Jung sebagai kompleks. Kompleks adalah kelompok perasaan, pikiran, persepsi, dan ingatan tentang suatu tema umum. Kebanyakan kompleks (menurut Jung) adalah berbahaya tapi juga dapat berguna.

  1. Ketidaksadaran kolektif
Bagian terdalam dari kepribadian adalah ketidaksadaran kolektif. Bagi Jung itu merupakan pusat ingatan laten manusia dan leluhurnya yang terdiri dari ingsting dan arketipe yang diturunkan serta sering kali mengontrol perilaku kita. Arketipe-arketipe itu eksis dalam semua kebudayaan melalui sejarah. Ingatan kolektif, bagi Jung, adalah universal dalam kehidupan karena evolusi pada umumnya dan struktur otak. Konsepsi ini sering kali salah dimengerti. Orang sering menganggap ini sebagai sumbangan orisinal Jung pada ilmu psikologi, walaupun Freud sebelumnya telah mengajukan konsep agak mirip, yang disebutnya sebagai ketidaksadaran rasial yang dimiliki secara kolektif.
Hal yang lebih penting, Jung tidak menerima ide, terutama dari J.B. Lamark, bahwa seseorang memiliki karakter yang diwarisi secara langsung. Jung mengatakan bahwa kita tidak mutlak mewarisi karakter yang diwariskan secara langsung. Kita hanya mewarisi sebagian dan membawanya pada sebuah kecenderungan  atau predisposisi untuk merespons pengalaman tertentu dengan cara yang khusus. Terkadang kecenderungan ini muncul dengan cara spontan dan terkadang ketika seseorang dalam kondisi stress, dalam bentuk motif arketipe.

Dalam ketidaksadaran kolektif (collective unconscious) terdapat archetype :
§      Archetype
            Isi dari ketidaksadaran kolektif dinamakan archetype. Jung juga menyebut archetype-archetype tersebut dominan, imago, bayangan-bayangan, dam mitologis. Archetype merupakan tema universal yang mempengaruhi manusia . Archetype, pada prinsipnya, merupakan bentuk pemikiran atau ide yang memberikan pandangan tentang pengalaman-pengalaman tertentu.
            Archetype dibentuk secara tidak sama atau tidak merata dalam kepribadian. Beberapa diantaranya dibentuk dengan baik dan memiliki pengaruh yang kuat pada fungsi kepribadian. Adapun yang lain tidak terbentuk secara baik dan hanya sedikit pengaruhnya. Archetype tidak mempunyai bentuk, tapi bertindak sebagai “organizing principle” pada benda-benda yang kita lihat atau apa yang kita lakukan.
Beberapa archetype berkembang pesat ;
§      Persona
Bagi Jung, persona merupakan sebuah kompromi antara tuntutan lingkungan dan kepentingan konstitusi individual. Ia merupakan topeng yang berfungsi secara memadai ketika seseorang berhubungan dengan orang lain. Topeng ini meliputi banyak sekali peran yang digunakan dalam kegiatan-kegiatan rutin. Persona juga membantu mengontrol kekuatan jahat dalam ketidaksadaran kolektif. Agaknya, persona memang merupakan satu archetype karena itu merupakan manisfestasi universal dari usaha seseorang menyesuaikan diri dengan orang lain.
Persona juga bisa merupakan cirri yang negatif. Seseorang dapat belajar menyembunyikan diri atau kepribadian yang sebenarnya dibalik topeng-topeng ini. Dari perspektif lain, dapat juga dikatakan bahwa ketika seseorang terperangkap dalam peran tertentu, ia dapat kehilangan sebagian sisi individualitasnya.
Dalam pandangan Jungian, seseorang harus menyadari dan menerima batas rasionalitas dan intelektualitasnya. Dia juga harus menerima archetype seperti orang tua bijaksana yang mengajarkan tentang kesalahan manusia karena archetype mengandung kebijaksanaan dan pengertian.
§      Shadow
Jung mengartikan shadow sebagai darkside atau “sisi gelap” dari diri manusia. Bila persona bekerja sama dengan ego di bidang kesadaran dan berperan dalam menyesuaikan diri dengan dunia luar, maka shadow mewakili kejahatan, ketidaksesuian, ketidaksadaran, dam bagian inferior dalam psike. Shadow mengandung dua aspek primer : satu berhubungan dengan ketidaksadaran personal dan yang lain dengan ketidaksadaran kolektif. Dalam hubungannya dengan ketidaksadaran personal, shadow mengandung pengalaman-pengalaman dimana individu menolak prinsip-prinsip moral dan estetika. Jung percaya, terkadang shadow bekerja sama dengan insting seksual (Freudian) dan kehendak untuk berkuasa (Adlerian).
Dalam hubungannya dengan ketidaksadaran kolektif, shadow mengandung personifikasi universal dari kejahatan dalam psike manusia. Jung menegaskan kita tidak pernah secara tuntas mengetahui sisi gelap kepribadian ini karena kita tidak pernah berhadapan dengan bentuk kejahatan secara absolut dalam kepribadian. Akan tetapi, dalam hal ini shadow eksis dalam kepribadian semua orang dan muncul dalam bentuk bermacam-macam, seperti perasaan ingin merusak diri sendiri, keinginan untuk menghancurkan orang lain atau alam.
Adalah benar bahwa, pada dasarnya, manusia tidak dapat mengotrol impuls-impuls tersebut. Jung percaya bahwa oerasaan yang direpresikan ini bekerja secara independen dalam ketidaksadaran, yang bekerja sama dengan impuls-impuls yang lain. Akibatnya, ia menjadi satu kekuatan kompleks yang bias meledak secara cukup kuatdalam kesadaran dan karena itu melemahkan ego. Misalnya, seorang eksekutif yang dihormati bias menjadi sangat kasar terhadap koleganya dalam pertemuan penting. Argumentasinya bias menjadi sangat irasional, tidak dapat dipertanggungjawabkan, dan mungkin tidak berhubungan dengan isu yang dipertimbangkan. Atau, dalam ruang lingkup yang lebih besar, pengusaha dan atau pejabat bias membuat policy yang merusak lingkungan hidup atau merugikan rakyat.
Shadow juga mengandung sisi positif di samping sisi negatif yang telah kita bicarakan. Beberpa contoh sisi positif, misalnya, seorang pembunuh bias mengampuni korbannnya karena dia mengingatkannya pada seseorang yang pernah dicintainya. Atau, seorang wanita yang mementingkan dirinya sendiri (selfish) menghabiskan waktu dan uangnya untuk kegiatan karitatif, karena dia tidak memperhitungkan jumlah pengeluaran akibat tindakannya itu. Secara umum, segi positif dari shadow terkadang terjadi ketika seseorang merasa tidak bertanggung jawab sepenuhnya, spontan, dan kreatif.
§      Anima dan Animus
Seperti Freud, Jung merasa bahwa semua pria dan wanita memiliki elemen seksual yang berlawanan dengannya. Setiap pria memiliki segi feminim, seperti halnya setiap wanita memiliki kualitas maskulin tanpa disadari. Konsep ini didasarka atas kenyataan bahwa terdapat variasi hormon antara wanita dan pria. Archetype feminim dalam pria oleh Jung disebut anima, archetype maskulin dalam wanita disebut animus.
Seperti semua archetype yang lain, anima dan animus dapat bekerja secara konstruktif dan destruktif. Jung mengatakan, anima dapat berfungsi positif pada pria, misalnya, mengingatkan perasaan yang terlalu superior. Fungsi itu bekerja negatif dalam tindakan pria yang kewanita-wanitaan. Animus dalam wanita memiliki manisfestasi positif ketika menciptakan argumentasi logis dan rasional. Sisi negatif animus dapat dilihat ketika wanita berperilaku seperti pria tulen, seperti ketika atau feminis berperilaku maskulin.
Jung mengatakan bahwa anima dan animus merupakan fenomena universal, mendeskripsikan stereotype seksual dalam kebudayaan. Archetype maskulin mengandung karakteristik yang diasosiasikan secara tradisional dengan peran pria, seperti logis rasional, kuat, ergumentatif, lebih intensif secara social, dan lain-lain. Archetype feminim dan perilakunya sangat dekat dengan asosiasi tentang atribut tertentu, seperti emosional, sensitive, intuitif, tidak rasional, lemah, dan sebagainya. Di sini tampak bahwa analisis Jung tentang karakteristik negatif animus dan kelemahan anima mengandung bias patriarchal seperti teori Freud tentang penis envy.
Archetype ini mungkin pula muncul dalam mimpi dan fantasi, atau sering kali pula diproyeksikan dalam objek yang real. Akan tetapi, proyeksi ini bias menimbulkan dampak negatif. Misalnya, anima dalam pria dapat diproyeksikan kepada kekasihnya. Mungkin dia melihat kekasihnya sebadai ibu universal yang sensitive dan selalu melindunginya.
§      Self
Potensial arketipal dari diri manusia adalah self. Ia dikonsepsikan sebagai cetak biru energi yang memiliki kemampuan untuk merealisasikan, atau yang disebut Jung sebagai jalan individuasi. Individuasi merupakan proses dimana seseorang menjadi dirinya sendiri yang unik. Dalam melakukannya, dia tidak menjadi selfish dan jauh dari egoisme dan individualisme.
Gerakan menuju realisasi diri (self realization) merupakan satu proses yang sangat sulit. Jung percaya bahwa proses itu tidak dapat dicapai dalam usia muda karena membutuhkan waktu dan usaha untuk memecahkan banyak konflik yang saling bertentangan dalan psike. Ia baru dapat dicapai minimal pada usia setengah baya. Dalam harmoni, ego menjadi satelit self, seperti bumi berputar mengelilingi matahari. Kesadaran tidak menempatkan kembali ketidaksadaran dalam psike. Sebaliknya, prinsiple of opposites yang bekerja, saling menyeimbangkan antara kesadaran dan ketidaksadaran, antara ego dan shadow. Dengan demikian, sesuatu yang “negatif” tidak ditekan, melainkan diterima dan diakui secara jujur keberadaannya. Keseimbangan ini merupakan cirri realisasi diri.
Dalam pengertian itu, self dikonsepsikan sebagai kekuatan pemersatu yang memiliki fungsi transenden yang mengadakan keseimbangan padaberbagai system kepribadian. Dengan kata lain, individu mengeksplorasi aspek ketidaksadaran dari psike individualnya. Misalnya, seorang wanita menyadari bagaimana shadow-nya mengoperasikan tindakan impulsive. Pemahaman ini mengandung resolusi terhadap konflik mereka. Melalui pemahaman baru ini, mentransendensikan konflik-konflik dan mulai hidup harmoni.
Perhatian Jung yang besar terhadap symbol, merupakan usahanya untuk menemukan cara self mulai mengekspresikandan membedakan system religius, psikologi, seni, dan filsafat sepanjang sejarah. Representasi yang terpenting dari self adalah mandala, atau lingkaran magis, yaitu symbol yang ditemukan dalam tulisan dan seni pada seluruh kebudayaan. Mandala merepresentasikan sebuah sintesis antara unsure-unsur yang bertentangan  dalam psike ketika individu mewujudkan realisasi diri. Mandala juga ditemukan dalam Budhisme dan Taoisme serta beberapa agama lain.
Jung sering menjumpai pasiennya serta secara spontan menceritakanmandala dalam mimpi-mimpi mereka dan juga menggambar mandala dalam sesi terapi. Jung percaya bahwa dia telah menemukan sebuah sintesis fenomena universal yang mentransendensikan pengalaman pribadi. Jung berkeyakinan pula bahwa dalam usahanya mewujudkan diri, orang-orang menempuh cara yang berbeda dalam berhubungan dengan pengalaman. Itu berarti mereka mengambil sikap yang berbeda terhadap kehidupan dan menggunakan proses atau fungsi psikologis yang berbeda untuk memberikan makna kepada pengalaman mereka. Jung memberikan uraian lebih jauh tentang sikap-sikap dasar dan fungsi yang dipergunakan dalam teori tipologi psikologisnya.

C. PROSES PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
            Jung mengatakan bahwa pertumbuhan pribadi merupakan suatu dinamika dan proses evolusi yang terjadi sepanjang hidup. Individu secara kontinyu berkembang dan bekajar ketrampilan baru serta bergerak menuju realisasi diri.
            Jung tidak menerima pandangan Freud bahwa kepribadian individu relatif berhenti dengan berakhirnya masa kecil. Jung menolak pula konsepsi Freud bahwa kejadian masa lalu menentukan perilaku seseorang. Bagi Jung, perilaku individu ditentukan bukan hanya oleh pengalaman masa lalu, melainkan juga oleh tujuan masa depan. Dia melihat individu sebagai seseorang yang secara kontinyu merencanakan masa depannya. Akan tetapi, walaupun individu dapat mengalami progresivitas menuju diri pribadi dengan mengembangkan fungsi-fungsi psikologis yang berbeda, dia dapat juga mengalami kemunduran.
            Gerakan menuju aktualisasi ini sering kali merupakan proses yang sulit dam menyakitkan. Itu secara kontinyu merupakan usaha individu untuk memahami pengalamannya dan mengembangkan sikap-sikap yang sehat. Seseorang akan sering merasakan krisis dan Jung percaya bahwa banyak pengalaman individu yang mengalami krisis pada pertengahan usia. Resolusi pada krisis ini menolong seseorang untuk bergerak menuju persepsi yang tepat dan penuh pemahaman tentang dirinya. Dibawah kondisi ini, seseorang mengalami individuasi, yaitu ketika seseorangmampu “menjadi” manusia yang “meng-ada”. Kemudian, dia mampu menerima kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan dalam psike melalui transendensi.
            Proses gerakan menuju aktualisasi-diri tidak terjadi secara otomatis. Jika seseorang tumbuh dalam kondisi lingkungan yang tidak sehat atau mengancam, perkembangannya mungkin mengalami gangguan. Akan tetapi, mungkin juga individu merepresikan kekuatan-kekuatan jahat dalam kepribadian yang dapat meledak tanpa merusak fungsi kepribadian. Di bawah kondisi ini, seseorang menderita neurotik atau psikotik.
            Jung menganggap bahwa psikotik atau neurotik merupakan akibat dari perkembangan satu sisi dan merepresikan kekuatan-kekuatan lain. Misalnya, pemikiran yang direpresikan oleh tipe perasaan yang bersifat introversi akan menimbulkan gangguan neurotik. Akibat dari neurotik adalah neurasthenia, suatu kerusakanyang dicirikan oleh keletihan dan tanpa gairah.
            Jung melihat psikosis sebagai lanjutan dari neurosis yang terjadi ketika represi di mana kekuatan ketidaksadaran melebihi kesadaran. Dalam pandangannya, kesadaran merupakan fenomena sekunder yang berasal dari ketidaksadaran. Karenanya, kesadaran adalah entitasyang rentan dan dapat dirusak ol;eh kekuatan dalam ketidaksadaran. Dalam kasus ini, individu menjadi collapses dan kehilangankontrol ego.










 





















 
             





























































Tidak ada komentar:

Posting Komentar