Jumat, 20 Juni 2014

Psikososial

A.   Pondasi Perkembangan Psikososial
Saat para bayi berbagi pola perkembangan yag sama, mereka juga dari awal menunjukkan ragam kepribadin yang berbeda, yang merefleksikan pengaruh bawaan atau lingkungan.
Emosi
Emosi adalah reaksi subjektif terhadap pengalaman yang diasosiasikan dengan perubahan psikologis dan perilaku. Misalnya, diiringi dengan detak jantung yang semakin cepat, dan, sering kali, tindakan melindungi diri.Teori pembelajaran menjelaskan perkembangan ini sebagai hasil dari pengkondisian.
Dalam memandu dan mengatur perilaku, emosi melaksanakan beberapa fungsi protektif. Salah satu fungsi tersebut adalah mengkomunikasikan kebutuhan, niat atau hasrat, dan memunculkan respon. Fungsi komunikasi ini merupakan inti perkembangan hubungan social dan khususnya penting bagi bayi, yang harus tergantung pada orang dewasa untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Fungsi protektif kedua yang dipenuhi oleh emosi seperti rasa takut dan terkejut digunakan untuk memobilisasi tindakan dalam waktu darurat. Fungsi ketiga ketertarikan dan kegembiraan, adalah mempromosikan eksplorasi lingkungan, yang bermuara pada pembelajaran yang dapat mempertahankan dan menjaga nyawa
Emosi sangat erat berkaitan dengan aspek perkembangan yang lain. Misalnya, seorang bayi yang baru lahir yang di acuhkan secara emosional-tidak di peluk, disayang, atau tak di ajak bicara akan menunjukkan kegagalan tumbuh nonorganik, yaitu kegagalan untuk tumbuh dan mendapatkan berat badan yang seharusnya.
Pokok-pokok perembangan psikososial bayi dan batita, dari lahir hingga 36 bulan.
0 - 3
Mereka mulai menunjukkan ketertarikan dan keingintahuan, dan mereka mulai tersenyum kepada orang – orang.
3 - 6
Saat ini adalah waktu terbangunnya perasaan social dan pertukaran resiprokal awal antara bayi dan pengasuh.
6-9
Mereka mengeksperesikan emosi yang lebih banyak, menunjukkan perasaan marah, gembira, takut, dan terkejut.
9-12
Pada usia satu tahun, mereka akan mengomunikasikan emosinya secara lebih jelas, dengan menunjukkan perasaan, ambivalensi, dan gradasi perasaan.
12 – 18
toddler mengeksplorasi lingkungannya dengan menggunakan orang – orang tempat mereka paling banyak mengikatkan diri sebagai landasan pengaman. Setelah mereka menguasai lingkungannya maka mereka akan menjadi semakin percaya diri dan lebih bersemangat untuk menilai diri mereka sendiri.
18-36
Mereka mengatasi kesadaran akan keterbatasan mereka, dapat bermain dan berfantasi dengan mengidentifikasinya kepada orang dewasa.

Tanda emosi pertama
Bayi yang baru lahir menunjukkan ketidaksenangan mereka dengan cara sederhana seperti, mengeluarkan tangis yang memekakkan telinga, menendang-nendangkan tangan dan kaki, serta mengejangkan tubuh mereka.Sinyal atau isyarat awal terhadap perasaan bayi ini merupakan langkah penting dalam perkembangan. Ketika si bayi menginginkan atau membutuhkan sesuatu, dia akan menangis; ketika ia merasa nyaman (sociable) ia akan tersenyum atau tertawa.
Makna dari sinyal emosional bayi berubah-ubah. Awalnya, menangis menunjukkan ketidaknyamanan fisik; namun dikemudian hari, menangis lebih sering bentuk ekspresi tekanan psikilogis. Senyum di masa awal muncul secara spontan sebagai ekspresi keberadaannya; pada usia sekitar 3 sampai 6 minggu, senyuman menandakan kenyamanan dalam kontak social. Dengan bertambahnya umur si bayi, senyuman dan tawa pada situasi yang baru atau tidak tepat merefleksikan peningkatan kesadaraan kognitif dan pertumbuhan kemampuan utuk menangani kegembiraan (sroufe, 1997).
Menangis
Menangis adalah cara paling ampuh dan terkadang merupakan satu-satunya cara bayi untuk mengkomuikasikan kebutuhan mereka. Empat pola tangisan, Tangisan lapar (hunger cry) yaitu tangisan ritmis yang tidak selalu di asosiasikan dengan rasa lapar; Tangian marah (pain cry) yaitu tangisan kera yang terjadi tiba-tiba tanpa ada isakan pendahuluan, terkadang di ikuti dengan penahanan napas; dan tngis frustasi; (frustration cry) (dua atau tiga tangisan “keing”, tanpa di ikuti dengan segukan).
Sebagian orang tua khawair mereka akan memanjakan akan jika menggendong bayi yang menangis. Salah satu studi, penundaan merespon kecerewetan memang tampaknya mengurangi sikap cerewet tersebut pada enam bulan pertama, mungkin dikarenakan si bayi belajar untuk menghadapi iritasi minor seorang diri (Hubbard & van Ijzendoorn 1991). Tetapi, jika orang tua menunggu sampai tangisan tersebut berubah menjadi pekikan kemarahan, maka akan sulit untuk menenangkan bayi; jika dilakukan berulang kali, dapat mengganggu perembangan kemampuan bayi untuk mengatur kondisi emosionalnya. Pendekatan yang baik untuk perkembangan adalah yang di anut oleh orang tua Catherin Betson: mencegah rasa tertekan sehingga penenangan tidak dibutuhkan.
Tersenyum dan tertawa
Senyuman awal muncul setelah kelahiran, yang merupakan hasil dari aktivitas sistem saraf subkorikal. Senyuman ini akan semakin jarang karena matangnya korteks. Senyum sadar (waking smile) paling awal dapat diperoleh melalui sensasi lembut, seperti bunyi – bunyian lembut atau tiupan kepada kulit bayi. Minggu kedua, bayi dapat tersenyum mengantuk setelah menyusu. Minggu ketiga, sebagian besar bayi akan tersenyum ketika mereka siaga dan memerhatikan suara dan anggukan suara pengasuhnya. Bulan kedua, pengenalan visual berkembang, dan bayi akan tersenyum lebih banyak  seperti, wajah yang mereka kenali.
Empat bulan, bayi mulai mengeluarkan tawa ketika perutnya dicium. Bayi berusia enam bulan ibunya yang tampil dengan seluruh wajah ditutupi handuk,. Pada usia sepuluh bulan, bayi akan berusaha mengembalikan handuk tersebut ke wajah ibunya sambil tertawa. Perubahan ini mencerminkan perubahan kognitif.
Kapan emosi muncul?
            Emosi tersebut akan muncul ketika usia bayi tersebut menunjukkan emosi tertentu. Mengidentifikasi emosi bayi merupakan sebuah tantangan, karena mereka tidak dapat mengatakan kepada kita apa yang mereka rasakan.Misalnya, carol izard dan para koleganya merekam ekspresi wajah bayi dan menginterpretasikan mereka sedang menunjukkan kegembiraan, kesedihan, ketertarikan, ketakutan, dan tingkat kemarahan yang lebih rendah,terkejut, dan sikap acuh.wajah bukan satu – satunya isyarat emosi bayi. Aktivitas, bahasa tubuh, dan perubahan psikologis juga merupakan indikator penting. Misalnya, seorang bayi dapat merasakan takut tanpa menunjukkan ‘’wajah ketakutan’’. Mereka dapat menunjukkannya dengan menjauh atau menolak untuk melihat, atau dengan detak jantung yang semakin cepat, dan semua inin tidak harus muncul dalam waktu bersamaan. Kriteria yang berbeda akan menunjukkan kesimpulan yang berbeda tentang kemunculan emosi tersebut.
Emosi dasar
            Bayi yang baru lahir menunjukkan sinyal kegembiraan, ketertarikan, dan ketertekanan. Perbedaan emosi sepanjang tiga tahun pertama. Emosi utama muncul pada enam bulan pertama atau setelahnya. Emosi akan kesadaran diri mulai berkembang pada paruh kedua tahun kedua, sebagai akibat dari kemunculan kesadaran diri bersama dengan akumulasi pengetahuan tentang standard dan aturan sosial. Ada dua bentuk rasa malu. Bentuk yang pertama, tidak mengandung evaluasi perilaku dan lebih karena objek tunggal perhatian. Yang kedua yaitu, rasa malu evaluasi, yang muncul sepanjang tahun ketiga, adalah bentuk lebih lembut dari rasa malu.
Emosi yang melibatkan diri
Emosi kesadaran diri (self conscious), seperti rasa malu, dan iri, baru muncul setelah si anak mengembangkan  pemahaman diri ( self awareness). Pemahaman diri merupakan keharusan bagi seorang anak sebelum ia menyadari bahwa dirinya menjadi fokus perhatian.
            Rasa bersalah dan rasa malu adalah dua emosi yang berbeda, walaupun keduanya sama – sama merupakan respon terhadap perilaku yang salah. Fokus mereka adalah perilaku yang buruk, bukan diri yang buruk. Seorang anak yang merasa bersalah akan mencoba untuk membuat perbaikan kecil. Misalnya, seorang anak yang memecahkan piring, ia akan mencoba menyatukan belahan piring tersebut, sedangkan seorang anak yang merasa malu akan lebih cenderung untuk mencoba menyembunyikan perilaku yang salah tersebut.
Empati
Empati adalah kemampuan untuk memosisikan diri pada posisi orang lain dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Empati berbeda dengan simpati yang hanya melibatkan keprihatinan atau perhatian terhadap penderitaan orang lain. Baik empati maupun simpati cenderunguntuk diikuti oleh prosocial behavior(perilaku sosial) seperti mengembalikan mainan yang dirampasnya.
Empati bergantung pada kognisi social, kemampuan  kognitif untuk memahami bahwa orang lain juga memiliki kondisi mental dan kemampuan untuk mengukur perasaan dan perhatian mereka.
Pertumbuhan otak dan perkembangan emosional
            Pertumbuhan otak setelah lahir berkaitan erat dengan perubahan emosi. Seorang bayi yang baru lahir hanya memiliki indra kesadaran yang menyebar dan sangat mudah dioverstimulasi dan dibuat kecewa dengan suara, cahaya, dan sumber perangsang sensor lainnya. Dengan berkembangnya sisten syaraf pusat dan jalur syaraf semakin termilenasi, reaksi bayi menjadi semakin focus dan tenang, atau seimbang. Pemrosesan sensoris semakin kurang refleksif seiring dengan mulai berfungsinya korteks. Ini adalah proses dua arah, pengalaman emosional bukan hanya dipengaruhi oleh perkembangan otak tapi juga memiliki efek abadi pada struktur otak.
            Terdapat empat perubahan utama dalam organisasi otak, yang tampaknya berhubungan secara langsung dengan perubahan dalam pemrosesan emosi. Tiga bulan pertama, ketika selebral korteks mulai berfungsi, terjadi pemilihan emosi dasar. Perubahan kedua terjadi sekitar 9 atau 10 bulan, ketika lobus l frontal mulai berinteraksi dengan sistem limbic, tempat reaksi emosional. Saat yang bersamaan, struktur limbic seperti hypocampus. Semakin membesar dan semakin mirip dengan yang dimiliki oleh orang dewasa. Hubungan antara kortek frontal dan hypothalamus serta sistem limbic, dapat memfasilitasi hubungan antara belahan kognitif dan emosional seiring dengan semakin padat dan rumitnya hubungan ini seorang bayi dapat merasakan dan menerjemahkan emosi pada saat yang bersamaan .
Perubahan ketiga terjadi pada tahun ke 2, ketika si bayi mengembangkan pengembangan diri, emosi kesadaran diri, dan kemampuan yang lebih besar untuk mengatur emosi dan aktifitas mereka sendiri. Berbagai perubahan ini, yang di iringi dengan mobilitas fisik yang besar dan perilaku eksplorasi, bisa jadi berkaitan dengan meilinasi lobus frontal. Dan perubahan ke 4 terjadi pada usia 3 tahun, ketika perubahan hormonal dalam sistem sarat otomatis beriringan dengan munculnya emosi evaluasi.

Temperamen
            Temperamen terkadang didefenisikan sebagai karakteristik seseorang, cara mendasar biologis untuk mendekati dan bereaksi terhadap orang dan situasi. Temperamen memiliki basis emosional; akan tetapi ketika emosi seperti rasa takut, gembira, dan bosan dating dan pergi, temperamen cenderung konsisten dan berkesinambungan. Perbedaan individual dalam dalam temperamen, yang dianggap bersumber dari komposisi biologis, membentuk inti perkembangan kepribadian—pola perasaan, pemikiran, dan perilaku yang cenderung konsisten, dan membuat orang tersebut sebagai pribadi yang unik (Eisenberg, Fabes, Guthrie, & Reiser, 2000).
Mempelajari Pola Temperamen
Tiga pola temperamental (merujuk pada New York Longitudinal Study)
Anak dengan temperamen sedang (easy children):
Anak dengan temperamen tinggi (difficult children):
Anak dengan temperamen rendah (slow to warm up children):
Memiliki perasaan dengan intensitas lembut higga moderat, biasanya positif.
Sering dan intens menunjukkan perasaan negative: sering menangis dengan suara keras: tertawa dengan keras
Memiliki reaksi dengan intensitas ringan, baik positif maupun negative
Merespon sesuatu yang baru dan perubahan dengan baik
Kurang baik dalam merespon sesuatu yang baru dan perubahan
Merespon perubahan dan sesuatu yang baru dengan lambat
Mengembangkan jadwal tidur dan makan regular dengan cepat
Makan dan tidur tidak teratur
Tidur dan makan dengan keteraturan di bawah anak temperamen sedang, namun di atas anak bertemperamen tinggi
Mudah menerima makanan baru
Lambat dalam menerima makanan baru
Menunjukkan respon awal negative terhadap stimuli baru (pertemuan pertama dengan orang, tempat, atau situasi baru
Tersenyum kepada orang asing
Curiga terhadap orang asing

Beradaptasi dengan mudah terhadap situasi baru
Beradaptasi dengan lambat terhadap situasi baru

Menerima perasaan frustasi dengan sedikit pertengkaran
Bereaksi terhadap frustasi dan kemarahan

Beradaptasi dengan cepat kepada rutinitas baru dan peraturan permainan baru
Beradaptasi dengan lambat kepada situasi baru
Secara gradual mengembangkan rasa suka kepada stimuli baru setelah ditampakkan berulangkali dan tanpa paksaan

Dasar Biologis Tempramen
            Dalam sebuah studi jangka panjang terhadap 400 anak yang dimulai sejak usia bayi, Jerome Kagan dan para koleganya telah mempelajari aspektemperamen yang disebut inhibition to the unfamiliar (menahan  diri dari yang asing), atau rasa malu/ segan, yang memainkan peran dalam seberapa sosialnya seseorang anak dengan anak lain yang asing dan seberapa berani atau berhati-hatinya anak tersebut dalam mendekati objek dan situasi yang asing. Semua karekteristik ini diasosiasikan dengan berbagai perbedaan dalam fitur fisik seperti warna mata, dan dalam fungsi otak, sebagaimana pula yang direfleksikan dalam sinyal psikologis seperti detak jantung, tekanan darah, dan dilatasi pupil. Ketika diminta untuk memecahkan masalah atau mempelajari informasi baru, anak yang penuh pemalu (sekitar 15% dari sampel) menunjukkan detak jantung yang lebih tinggi dan kurang bervariasi ketimbang anak yang lebih berani, dan pupil mata mereka juga lebih sering berdilatasi. Anak-anak yang paling berani (sekitar 10-15% dari sampel) cenderung energik dan spontan dan memiliki detak jantung yang lebih rendah (Arcus & Kagan, 1995).
            Bayi empat bulan yang sangat reaktif,atau yang rewel dan menangis sebagai respon terhadap stimuli baru cenderung menunjukkan pola terhambat pada usia 14-21 bulan. Bayi yang sangat terhambat atau yang tidak terhambat sama sekali cenderung mempertahankan pola ini hingga tingkat tertentu sepanjang masa kanak-kanak dan remajanya (Kagan, 1997; Kagan & Snidman, 1991a, 1991b). akan tetapi perbedaan perilaku antara 2 tipe anak ini cenderung “sejaar” pada masa praremaja, walaupun perbedaan psikologis masih tetap ada (Woodward et all., 2001).
            Sekali lagi, pengalaman dapat memoderasi atau menguatkan kecenderungan awal. Batita laki-laki yang cenderung takut  dan pemalu cenderung tetap demikian pada usia 3 tahun, terutama apabila orang tuanya menerima begitu saja reaksi anak mereka. Tetapi jika orang tua mendorong anak mereka untuk menjelajahi pengalaman baru, si anak tidak akan terlalu terhambat ( Park, Belsky, Putnam, & Crni, 1997).
            Dalam jangka panjang yang berdurasi 4 tahunan terhadap 153 bayi, mereka yang mengalami perubahan perilaku, dari yang terhambat menjadi tidak terhambat menunjukkan pola aktifitas otak yang berbeda disbanding dengan mereka yang tetap terhambat. Para bayi yang berubah dalam temperamennya jugalebih cenderung memiliki pengasuh bukan orang tua pada dua tahun pertama (Fox, Henderson, Rubin, Calkins, & Schmidt, 2001).
Perbedaan Lintas Kultur
            Sebagaiman yang diamati oleh Mead, temperamen dapat dipengaruhi oleh budaya yang memengaruhi praktik membesarkan bayi. Bayi di Malaysia, sebuah Negara kepulauan di Asia Tenggara, cenderung kurang beradaptasi, lebih cemas terhadap pengalaman baru, dan lebih sigap merespon stimuli baru ketimbang bayi di AS. Hal ini mungkin disebabkan orang tua di Malaysia jarang menghadapkan bayinya dalam situasi yang menuntut kemampuan beradaptasi, dan mereka mendorong bayi untuk sangat mewaspadai sensasi, seperti kebutuhan untuk mengganti popok (Banks, 1989).

Pengalaman Sosial Awal: Bayi di Tengah Keluarga
Peran Ibu
            Hal yang paling penting untuk diketahui adalah bahwa menyusui bukanlah hal yang paling penting bayi dapatkan dari ibu. Menjadi ibu berarti memberikan rasa nyaman melalui kontak tubuh ynag dekat.
Peran Ayah
            Di masa lalu, riset tentang perkembangan psikososial bayi hany terfokus kepada ibu dan bayi. Akan tetapi, pada masa ini para periset mempelajari hubungan antara bayi dan ayah mereka. Peran ayah, sama seperti peran ibu, minumbulkan komitmen emosional, dan sering kali keterlibatan langsung dalam merawat dan membesarkan anak. Akan tetapi, karena keterlibatan ayah yang sanagat beragam, ibu masih menjadi pengasuh utama.
            Konsep gender tentang “ Apa artinya menjadi laki-laki atau perempuan” dibentuk sejak masih bayi. Dimana ayah merupakan pemeran utama dalam membentuk perbedaan gender pada anak mereka. Pembentukan kepribadian anak laki-laki dan perempuan oleh orang tua tampak sejak dini. Terutama ayah, mempromosikan gender typing, yaitu proses dimana anak mempelajari tingkah laku yang dianggap pantas bagi mereka sesuai budaya masing-masing.
            Salah satu perbedaan dini dalam tingkah laku antara laki-laki dan perempuan adalah muncul pada usia 1 dan 2 tahun dimana anak sudah memiliki preferensi terhadap mainan dan teman bermainnya.
B.   Isu Perkembangan pada Masa Bayi
Membangun Kepercayaan
Merujuk pada Erikson (1950), pengalaman awal adalah kuncinya. Tahap perkembangan psikososial pertama yang diidentifikasikan oleh erikson adalah kepercayaan dasar vs ketidakpercayaan dasar (Basic trust vs basic mistrust). Tahap ini dimulai ketika lahir dan terus berlangsung hingga 12-18 bulan. Pada masa awal ini, bayi mengembangkan rasa ketergantungan kepada orang dan objek di dunia mereka. Apabila rasa percaya lebih mendominasi, sebagaimana seharusnya, anak akan mengembangkan “virtue” of hope: keyakinan bahwa mereka bisa memenuhi apa yang mereka butuhkan dan yang mereka inginkan (Erikson, 1982). Apabila ketidakpercayaan yang mendominasi, maka anak akan memandang dunia sebagai sesuatu yang tidak bersahabat dan tidak dapat di prediksi dan akan memiliki kesulitan dalam memulai hubungan.
Mengembangkan Keterikatan
            Keterikatan (Attachment) adalah ikatan emosional abadi dan resiprokal antara bayi dan pengasuhnya, yang sama-sama memberikan kontribusi terhadap kualitas hubungan pengasuh- bayi.
Mempelajari Pola Keterikatan
Mary Ainsworth pertama kali mempelajari keterikatan pada wal 1950 bersama John Bowlby berdasarkan studi etologis ikatan pada binatang dan observasi terhadap anak-anak yang terganggu jiwanya di klinik psikonalitis London, Bowlby (1951) meyakini nilai penting ikatan ibu-bayi. Beliau memberikan peringatan terhadap pemisahan bayi dan ibu tanpa pengasuh pengganti yang baik.
Dari hasil penelitian mereka tersebut mereka menemukan ada tiga pola keterikatan, yaitu:
1.      Dasar rasa aman (secure base): penggunaan orang tua atau pengasuh dari lingkungan keluarga oleh bayi sebagai titik awal eksplorasi dan tempat aman untuk kembali secara periodis untuk mendapatkan dukungan emosional.
2.      Keterikatan yang dihindari (avodant attachment): pola dimana bayi jarang sekali manangis ketika terpisah dari pengasuh dan menghindari kontak ketika pengasuh tersebut kembali.
3.      Keterikatan yang ambigu (ambivalent attachment): pola dimana bayi menjadi gelisah sebelum pengasuh utama pergi, menjadi amat sedih ketika pengasuh tersebut pergi, dan bayi tersebut mencari sekaligus menolak untuk kontak dengan pengasuhnya ketika kembali.
Riset lainnya (Main & Solomon, 1986) telah mengidentifikasikan pola keempat, yaitu keterikatan tak terorganisir dan tak terarah (disorganized disoriented attachment). Bayi dengan pola yang tak terorganisir sering kali menunjukkan pola perilaku yang tidak konsisten dan berlawanan.
Mereka menyambut ibu mereka dengan gembira ketika si ibu kembali, namun kemudian menjauh atau mendekati tanpa memandang kepadanya. Mereka tampak takut dan bingung. Pola ini mungkin adalah pola dengan tingkat rasa aman paling rendah dan mayoritas terjadi pada bayi dengan ibu yang kurang sensitif, intrusif, atau melecehkan (Carlson, 1998). (Tabel 6-3 menggambarkan bagaimana biasanya bayi dalam empat pola keterikatan bereaksi terhadap Situasi yang Asing).
Walaupun banyak riset terhadap ketertarikan didasarkan kepada model Situasi Asing, akan tetapi beberapa periset telah mempertanyakan validitasnya. Situasi Asing adalah sesuatu yang asing; dan juga artifisial. Model tersebut meminta si ibu untuk tidak memulai interaksi, menghadapkan bayi kepada datang-perginya seorang dewasa yang dilakukan berulang-ulang, dan mengharapkan si bayi untuk memberikan perhatian kepada mereka. Karena ketertarikan mempengaruhi perilaku dalam cakupan yang lebih luas dibandingkan dengan yang ada dalam Situasi Asing, sebagian periset telah menuntut metode yang lebih komprehensif dan sensitif untuk di ukur, salah satunya adalah bagaimana ibu dan bayi berinteraksi sepanjang situasi yang natural dan tidak menekan.
Telah dinyatakan bahwa model Situasi Asing sangat tidak sesuai diterapkan untuk mempelajari keterikatan pada anak dengan ibu yang bekerja, karena anak anak ini terbiasa dengan perpisahan dan kehadiran pengasuh lainnya. Akan tetapi, perbandingan dari 1.153 bayi berusia 10 bulan yang lahir di sepuluh kota di Amerika Serikat yang telah menerima beragam jumlah, tipe dan kualitas pengasuh yang dimulai dari berbagai usia, menemukan, “tidak ada bukti … bahkan model Situasi Asing tetap kurang valid jika digunakan bagi anak dengan pengalaman pengasuh yang luas” (NICHD Early Child Care Research Network, 1997a, hlm. 867).
Situasi Asing mungkin kurang valid dalam beberapa kultur non-Barat, yang memiliki harapan yang berbeda terhadap interaksi bayi dengan sang ibu dan dimana sang ibu menguatkan jenis perilaku yang berkaitan dengan keterikatan yang berbeda. Riset yang dilakukan terhadap bayi Jepang, yang lebih jarang berpisah dengan sang ibu dibandingkan dengan bayi AS, menunjukkan tingkat keterikatan yang tinggi, yang dapat merefleksikan tingkat stress Situasi Asing bagi mereka (Miyake, Chen & Campos, 1985).
Beberapa periset mulai menggunakan model Situasi Asing dengan metode yang dapat digunakan dalam setting alami. Dalam teknik Q-short, para pengamat mengurutkan serangkaian kata atau frasa deskriptif (“banyak menangis”; “cenderung lengket”) ke dalam kategori mulai dari karakteristik terendah sampai terbanyak yang dimiliki seorang anak. Waters dan Deane (1985) Attachment Q-set (AQS) mengharuskan ibu atau pengamat lain untuk membandingkan deskripsi perilaku keseharian anak dengan deskripsi ahli mengenai “anak yang paling aman secara hipotesis”. The Preschool Assessment of Attachment (PAA) (Crittenden, 1993) mengukur keterikatan setelah usia 20 bulan, dengan memasukkan hubungan prasekolah yang lebih kompleks serta kemapuan bahasa.
Dalam studi lintas-kultur yang menggunakan AQS, para ibu di Cina, Colombia, Jerman, Israel, Jepang, Norwegia, dan AS menggambarkan anak mereka lebih kapada “anak yang paling aman”. Lebih jauh lagi, deskripsi para ibu terhadap perilaku yang menjadi pondasi rasa aman mirip antara satu kultur dengan kultur lain. Karena itu, kecenderungan untuk menggunakan ibu sebagai dasar rasa aman bisa jadi merupakan sesuatu yang universal (Posada et al., 1995).
Bagaimana Keterikatan Terbentuk
Baik ibu dan bayi memberikan kontribusi terhadap keamanan keterikatan dengan cara mereka merespon satu dengan yang lain. Jelas, setiap aktivitas yang dilakukan bayi yang menarik respon orang dewasa merupakan perilku mencari keterikatan (attachmentseeking behavior) : mengisap, menangis, tersenyum, atau memandang mata sang pengasuh. Sebagaimana yang diamati oleh Ainsworth (1969), pada usia 8 minggu, bayi mengarahkan perilaku ini secara khusus kepada sang ibu merespons dengan hangat, memberikan ekspresi gembira, dan sering kali memberikan kontak fisik kepada sang bayi serta kebebasan untuk mengeksplorasi.
Walaupun pola keterikatan yang mirip dapat ditemukan dalam kultur terpencil seperti populasi suku dogon di Mali, Afrika Barat (true, Pisani & oumar,2001), perilaku keterikatan berbeda dari satu kultur ke kultur yang lain. Di kalangan suku Gusii Afrika Timur, di perbatasan barat Kenya, bayi disambut dengan jabatan tangan, karena itu tingkat tindakan menggapai tangan orang tuanya sebanyak bayi Barat yang duduk mendekat untuk mendapatkan sebuah pelukan ( Van Izedoorn & Sagi, 1999).
Berbasis interaksi bayi dengan sang ibu, kata ains worth dan Bowlby, si bayi membangun “model kerja” berkenaan dengan apa yang dapat diharapkan dari si ibu. Beragam pola keterikatan merepresentasikan respresentasi kognitif yang berbeda satu dengan yang lain sebagai hasil dari harapan yang berbeda. Selama si ibu terus bertindak demikian, maka model tersebut akan terus berlangsung. Apabila perilaku sang ibu berubah- tidak hanya sekali tapi secara konstan si bayi mungkin akan mengubah model tersebut dan keamanan keterikatan akan berubah.
 Model kerja keterikatan bayi berkaitan dengan konsep kepercayaan dasar Erikson. (Kesuksesan Margaret Mead dan Gregory Bateson sebagai orang tua baru merefleksikan ketidakpercayaan. Bayi yang terikat secara aman telah balajar untuk percaya bukan hanya terhadap para pengasuhnya tapi juga kepada kemampuannya mendapatkan apa yang mereka inginkan. Bayi yang banyak menangis, dan yang ibunya merespon dengan menenangkannya, cenderung memiliki keterikatan yang aman (Del Carmen, Pedersen, Huffman, & Bryan, 1993).
Berlawanan dengan temuan awal Ainsworth, bayi tampaknya membangun keterikatan kepada kedua orang tuanya pada waktu yang bersamaan, dan tingkat keamanan attachment kepada ayah dan ibu biasanya cenderung sama, sebagaimana yang terjadi dengan Cathy (Fox, Kimmerly, & Schafer, 1991). Jika tidak, keterikatan yang aman terhadap salah seorang dari kedua orang tua terkadang dapat mengimbangi keterikatan yang kurang aman terhadap yang lain (Engle & Breaux, 1998; Verschueren & Marcoen, 1991).
Pengaruh-pengaruh Terhadap Keterikatan
Mengapa ada bayi yang menunjukkan keterikatan yang aman (secure attachment) sedangkan yang lain tidak? Alasannya mungkin bukan masalah genetik, sebab kembar dizigotik yang memiliki keterikatan yang sama dengan kembar monozigotik menunjukkan bahwa perlakuan orang tua bisa jadi merupakan faktor penting. Jadi intinya terletak pada interaksi antara kualitas hubungan dengan pengasuh dan komposisi emosional bayi.
Peran Temperamen
Beberapa studi telah mengidendifikasikan level frustasi, jumlah tangisan, iritabilitas, dan ketakutan sebagai prediktor keterikatan. Indikator seperti detak jantung yang di asosiasikan dengan iritabilitas, mungkin merefleksikan kondisi neurogikal dan psikologikal yang mendasarinya. Dan tempramen bayi dapat secara tak langsung memengaruhi keterikatan melalui pengaruhnya terhadap orang tua.
Transmisi Lintas Generasi Keterikatan Orang Tua 
Cara seorang ibu mengingat bagaimana keterikatannya kepada sang ibunya dapat memprediksi bagaimana keterikatan anaknya kepada dirinya. Cara tersebut disebut dengan Adult Attachment Interview (AAI). Berarti sudah jelas bahwa cara orang dewasa mengingat pengalaman awal dengan orang tua atau pengasuh memengaruhi cara mereka merespon anak anak mereka. Dan seorang ibu yang memiliki keterikatan yang aman kepada ibunya (ketika masa kanak-kanak) dapat mengenali perilaku keterikatan bayinya secara akurat, memberikan respon yang mendorong dan membantu si bayi untuk membentuk keterikatan yang aman kepada dirinya.
Efek Panjang Keterikatan
Semakin aman keterikatan seoranga anak kepada orang dewasa yang mengasuhnya, maka semakin mudah pada akhirnya si anak untuk independen dari orang dewasa tersebut., seperti yang dilakukan oleh Cathy Bateson pada masa remaja dan membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Hubungan antara keterikatan pada masa bayi dan karakteristik yang diamati beberapa tahun kemudian mendasari kontinuitas perkembangan dan keterikatan antara berbagai aspeknya.
Apabila seorang anak, berdasarkan pengalaman awal, memiliki harapan positif berkenaan dengan kemampuan mereka untuk hidup bersama yang lain dan masuk dalam kehidupan sosial untuk saling memberi dan menerima dan apabila mereka memikirkan diri mereka dengan baik, maka mereka dapat membangun situasi sosial yang cenderung menguatkan keyakinan tersebut dan memuaskan interaksi yang berasal darinya. Dan sebagaimana bayi, apabila seorang anak miliki dasar yang kuat dan dapat mengandalkan responsivitas orang tua atau pengasuh, maka mereka cenderung merasa cukup percaya diri untuk terlibat secara aktif dalam dunia mereka.
Pada usia 3-5 tahun, anak dengan keterikatan yang aman lebih ingin tahu, kompeten, empatik, ulet dan percaya diri ketimbang anak dengan keterikatan yang tidak aman; bergaul dengan anak lain dengan lebih baik; dan lebih cenderung membentuk hubungan persahabatan yang lebih intim. Keunggulan keterikatan yang aman terus terasa hingga pada masa anak anak dan setelahnya. Dalam observasi labiratorium Prancis dan Kanada, pola keterikatan dan kualitas emosional interaksi anak berusia 6 tahun dengan ibu mereka memprediksikan kekuatan keterampilan komunikasi, keterlibatan kognitif, dan penguasaan motivasi sang anak pada usia 8 tahun.
Ketika anak berusia 10-11 tahun diamati dalam sebuah perkemahan musim panas, anak anak yang sejarah keterikatan yang aman membuat dan menjaga pertemanan serta berfungsi dalam kelompok. Dalam reunion anak berusia 15 tahun yang pernah berkemah tadi, remaja yang milikiketerikatan yang aman pada masa bayi dinilai lebih tinggi dalam kesehatan emosional, kepercayaan diri, kelenturan ego, dan kemampuan berteman dengan konselor atau teman mereka dan dengan para periset yang mengamati mereka.
Sebaliknya bayi yang tidak memiliki keterikatan yang tidak aman sering kali memiliki masalah kemampuan menahan diri dan emosi negatif pada masa batita, bermusuhan dengan yang lain pada usia 5 tahun, serta ketergantungan pada usia sekolah. Mereka dengan keterikatan tidak terorganisir (disorganized attachment) cenderung memiliki masalah perilaku pada semua level sekolah dan kelainan psikiatrik pada usia 17 tahun akan tetapi, bisa jadi korelasi antara keterikatan pada masa bayi dengan alur perkembangan dimasa kemudian, tidak bersumber dari keterikatan itu sendiri, tapi dari karakteristik kepribadian mendasar yang memperngaruhi keterikatan itu dan juga interakasi orang tua- anak setelah masa bayi.

Komunikasi Emosional Dengan Pengasuh : Regulasi Mutual 
Interaksi yang mempengaruhi kualitas keterikatan tergantung kepada mutual regulation (regulasi mutual) yaitu kemampuan yang dimiliki oleh bayi dan pengasuh untuk merespon dengan tepat sinyal kondisi emosional kedua belah pihak. Bayi mengambil peran aktif dalam proses ini dengan memengaruhi cara bertindak para pengasuh kepada mereka.
Interaksi yang sehat terjadi apabila sang pengasuh membaca sinyal yang diberikan bayi, dan apabila tujuan si bayi tercapai, ia akan bahagia. Apabila si pengasuh mengacuhkan si bayi, si bayi akan memberikan sinyal “rasanya saya tidak menyukainya”, si bayi dapat merasa frustasi atau sedih. Normalnya interaksi bergerak maju mundur antara kondisi pernyataan yang bagus dan yang tidak, dan si bayi belajar dari pergantian ini tentang bagaimana mengirimkan sinyal serta apa yang harus dilakukan ketika sinyal awal mereka tidak bermuara pada keseimbangan emosinal yang nyaman.
Paradigma “still-face” adalah suatu metode riset yang digunakan untuk mengukur regulasi mutual pada bayi yang berusia antara 2 sampai 9 bulan. Dalam episode still face, yang kemudian diikuti oleh interaksi tatap muka normal, sang ibu dengan wajah yang secara tiba tiba membatu, diam dan tidak merepon. Beberapa menit kemudia, si ibu kembali melanjutkan interaksi normal. Sepanjang perode still face, si bayi cenderung untuk berhenti tersenyum dan memandang sang ibu. Mereka mungkin akan membuat mimik, suara atau gerakan tubuh yang mugkin akan menyentuh benda yang didekatnya dan hal ini tampaknya dilakukan untuk melepaskan diri mereka dari tekanan emosional yang tercipta dari perilaku ibu yang tidak di duga.
Cara yang dilakukan bayi selama episode penyatuan kembali miliki 2 opsi, yaitu bayi menunjukkan respon positif atau negatif. Respon positifnya adalah bayi menunjukkan ekspresi kegembiraan, dan keriangan, serta gerak tubuh yang di arahkan kepada sang ibu dibandingkan sebelum episode still face. Sedangkan respon negatifnya adalah si bayi menunjukkan ekspresi marah, sikap menjauh, dan indikasi stress yang menyatakan bahwa si bayi tidak langsung menerima pembukaan kembali setelah still face.
Kondisi seperti ini penting karena kemampuan si bayi untuk mengatur emosi pada usia 2 bulan dapat digunakan untuk memprediksikan keamanan keterikatan pada usia 12 bulan. Dalam sebuah observasi laboratoris, seorang anak laki-laki berusia 6 bulan cenderung lebih sulit mengatur emosi mereka ketimbang anak perempuan di usia yang sama sepanjang episode still face. Dalam pertemuan tatap muka normal, anak laki-laki mempertahankan sinyal koordinasi emosional yang lebih baik dengan ibi mereka ketimbang anak perempuan, tapi membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memperbaiki ketidaksesuaian.

Stranger Anxiety dan Separation Anxiety
Shophie biasanya adalah seorang bayi yang “bersahabat , tersenyum kepada orang dan mendekati mereka,terus-menerus mengoceh  dengan riangg kepaada siapa saja yang ada disekitarnya”. Sekarang usianya sudah 8 bulan, dia menjauh ketika ada orang yang mendekatinya, dan menagis ketika orang tua, pengasuh atau orang yang suka mengasuhnya, hal tersebut menunjukkan bahwa shopie sedang mengalami stranger anxiety ( kecemasan terhadap orang asing ), yaitu kecemasaan terhadap oaring yang tidak ia kenal, dan separation anxiety ( kecemasan terhadap perpisahan, yaitu kesulitan ketika seseorang yang dekat dengannya meninggalkany.
Separation anxiety dan stranger anxiety biasanya dianggap sebagai tongggak emotional dan kognitif paruh kedua masa bayi, merefleksikan keterikatan terhadap sang ibu, akn tetapi riset yang lebih baru menyatakan bahwa walaupun kedua jenis kecemasan tersebut merupakan hal yang cukup khas akan tetapi tidak bersifat universal. Tangisan seorang bayi ketika orang tuanya meninggalkannya atau ketika orang lain datang bias jadi lebih mengindikasikan perangai bayi atau kondisi hidup bayi ketimbang keamanan keterikatan.

Sebelum usianya 6 bulan, bayi jarang sekali berinteraksi negtif  terhadap orang lain, dan biasa melakukan hal tersebut pada usia 8 atau 9 bulan  dan terus meningkat pada usia pertamanya. Perubahan ini bisa menunjukkkan perkembangan kognitif . kecemasann shopie terhadap orang lain  melibatkan ingatan wajah, dan kemampuan untuk membedakan antara penampakan  sang ibu dengan orang asing,  dan mungkin pengigantan kembali dimana ia ditinggalkan oleh oraangtuanya dan bersama orang lain, jikka shopie dibiarkan untuk membiasakan diri dengan si orang asing tersebut secara gradual dan setting yang  akrab dengan dirinya, dia mungkin berinteraksi dengan positif. Sebagai mana yang telah di amati oleh mead di budaya pulau Tenggara ,  pada saat itu, tidak satupun ketakutan terhaddap orang asing dan protes mendalam ketika sang ibu meninggalkan sibayi, keterikatan lebih jauh dengan apa yang terjadi ketika sang ibu kembali dan seberapa banyak anak mengeluarkan airmata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar