Jumat, 20 Juni 2014

Gangguan Perkembangan Pada Bayi

GANGGUAN PERKEMBANGAN PADA MASA BAYI
1.    Periode Infant (Bayi)
     Periode bayi dimulai dari masa kelahiran bayi (neonatal) dimana pada periode ini bayi pertama kalinya dilahirkan ke dunia, pada masa ini bayi belajar untuk dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan diluar rahim. Periode ini berlangsung selama kurang lebih 2 minggu disesuaikan dengan waktu saat tali pusar lepas dari pusar bayi (Hurlock: 1980).
Kemudian periode neonatal dilanjutkan dengan periode bayi yang berlangsung 2 tahun setelah masa neonatal, masa bayi adalah masa dasar dimana pada masa bayi ini pola perilaku, sikap, sosial-emosional bayi mulai terbentuk. Masa bayi banyak ditandai dengan berbagai pertumbuhan pesat pada bayi, baik fisik maupun psikologis; seperti anggota-anggota tubuh bayi mulai berubah dan memiliki perbandingan bentuk dan ukuran ke arah yang lebih baik, bayi mulai belajar mandiri dan individual, bayi juga mulai belajar untuk sosialisasi dan menerima hal-hal diluar dirinya, bayi mulai menyadari perbedaan gender, serta bayi mulai belajar untuk mengembangkan kreativitasnya.
Tetapi masa bayi juga merupakan masa yang rentan, karena masa bayi merupakan dasar permulaan perkembangan dari sepanjang rentang hidup individu, oleh sebab itu pada masa ini peran orangtua dalam membimbing dan mendidik bayi baik secara fisik bayi maupun kondisi psikologisnya sangat besar. Orangtua harus dapat menjadi pendukung dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan bayi, lewat menjaga kestabilan nutrisi dan gizi bayi, menjaga kehangatan hubungan batin antara bayi dan keluarganya, serta penyediaan sarana-sarana yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi.
Apabila pada masa bayi, bayi gagal dalam melaksanakan tugas-tugas dari tahap-tahap perkembangannya, maka pada periode kelanjutannya pun individu akan mengalami kesulitan dalam melakukan tugas-tugas perkembangan pada periode selanjutnya.

2.    Gangguan Perkembangan Pada Masa Bayi
Pada dasarnya setiap fase-fase perkembangan kehidupan manusia memiliki potensi adanya gangguan, tergantung dari tingkat keberhasilan atau kematangan individu dalam melewati setiap fase-fase hidupnya. Pada masa bayi, gangguan pertumbuhan dan perkembangan dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian:
a.    Gangguan Pertumbuhan Fisik
-       Hydrochepalus
Penyakit ini ditandai dengan membesarnya kepala bayi disebabkan oleh cairan otak (cerebrospinal) yang bertambah banyak dan memenuhi rongga kepala (ventrikel) dan menekan otak serta mengganggu sistem syaraf pada bayi.
-       Atresia Esofagus, Atresia Bilier, Atresia Ani
Atresia Esofagus (kerongkongan tidak terbentuk sempurna), Atresia Bilier (tidak terbentuk saluran empedu), Atresia Ani (tidak terbentuk anus). Ketiga hal ini sangat mengganggu sistem pencernaan bayi.
-       Clubfoot
Otot-otot, sendi-sendi pergelangan kaki dan tungkai kaki tidak terbentuk dengan sempurna (terdapat kelainan tulang).
-       Fibrosis Kistik
Penyakit ini terutama menyerang sistem pernafasan dan saluran pencernaan. Tubuh bayi tidak mampu membawa klorida dari dalam sel ke permukaan organ sehingga terbentuk lendir yang kental dan lengket.
-       Ambliopia (Gangguan ketajaman penglihatan)
Amblyopia adalah gangguan otak yang menyebabkan penglihatan di salah satu mata tidak berkembang dengan seharusnya. Ini adalah penyebab umum gangguan penglihatan permanen pada anak-anak.
-       Buta Warna
Buta warna pada bayi dapat diakibatkan oleh beberapa aspek, seperti genetis, maupun somatis.

b.   Gangguan Perkembangan Motorik
-       Neuromaskular
Gangguan ini mengakibatkan kurangnya kemampuan bayi dalam mengendalikan jaringan otot-ototnya yang membantu dalam proses motorik.
-       Celebral Palsy
Merupakan suatu gangguan perkembangan motorik (susunan sel-sel syaraf pusat) diakibatkan kecacatan pada jaringan otak yang belum selesai pertumbuhannya.
-       Distrofi Otot
Merupakan suatu gangguan ketidakmampuan serat-serat otot dalam mengendalikan rangka bayi untuk melakukan gerak-gerak tubuh.


c.    Gangguan Emosi dan Perilaku (Psikologis)
-       Down Syndrome
Anak dengan sindroma ini dapat dikenal dari penampilan luar dan kecerdasan terbatas, akibat gangguan kromosom nomor 21. Perkembangan akan lebih lambat dari anak normal.
-       Autism
Merupakan gangguan perkembangan pervasive pada anak yang gejalanya muncul sebelum anak berumur 3 tahun. Pervasif berarti meliputi seluruh aspek perkembangan yang mempengaruhi anak secara mendalam.
-       Mental Retardation
Suatu kondisi ketika keterbatasan intelekual mempengaruhi kemampuan seseorang untuk mengatasi segala tantangan dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat.
-       Hyperactives
Gangguan dimana seorang anak akan kesulitan untuk memusatkan perhatian yang seringkali  disertai dengan hiperaktivitas.
GANGGUAN PADA ANAK-ANAK
Gangguan dapat saja terjadi pada anak-anak. Sangatlah banyak gangguan yang terbagai dalam satu-satu kelompok. Ada beberapa gangguan yang biasanya terdapat pada masa anak-anak, diantaranya adalah :

1. Behavioral Disorder
A. Attention – Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD)
B. Conduct Disorder
C. Oppositional Defiant Disorder
2. Emotional Disorder
A. Social Anxiety
B. Depressive Disorder
3. Developmental and Learning Disorder
A. Mental Retardation
B. Autism and Childhood-Onset Schizophrenia
C. Learning Disorder
4. Problems related to Physical and Mental Health
A. Sleep Disorder
B. Eating Disorder
C. Family Conflict
1. BEHAVIORAL DISORDER
            Perilaku menyimpang dalam istilah psikologi sering disebut dengan Disruptive Behavior, dan karena perilakunya negative dan tidak normal maka termasuk dalam gangguan perilaku, disebut juga dengan Disruptive Behavior Disorders. Disruptive behavior ini merupakan pola-pola perilaku yang negatif yang ditampakkan anak dalam kelompoknya maupun untuk merespon segala sesuatu disekelilingnya. Respon yang sering munculya itu kemarahan, ketidaksabaran, penolakan dan sebagainya. Ada 3 macam perilaku yang termasuk dalam Disruptive Behavior Disorder yaitu :
A. Attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD)
ADHD adalah cacat dimana anak-anak menunjukkan satu atau lebih dari karakteristik ini selama periode waktu. Karaktersitik tersebut adalah : (1) Kelalaian, (2) Hiperaktivitas, dan (3) Impulsif. Anak-anak yang lalai mengalami kesulitan seperti fokus pada satu hal saja yang mungkin saja mereka bosan dengan tugas setelah hanya beberapa menit, atau bahkan detik. Anak-anak yang menunjukkan tingkat hiperaktif tinggi mempunyai tingkat aktivitas fisik yang tinggi. Anak-anak yang impulsif mengalami kesulitan mengendalikan reaksi mereka, mereka tidak melakukan pekerjaan dengan berpikir lebih baik sebelum bertindak. Tergantung pada karakteristik bahwa anak-anak dengan tampilan ADHD, mereka dapat didiagnosis sebagai (1) ADHD dengan didominasi kekurangan perhatian, (2) ADHD dengan didominasi hiperaktif / impulsif, atau (3) ADHD dengan kedua-duanya yaitu  kurangnya perhatian dan hiperaktif / impulsif.
Gejala utama pada anak yang mengalami ADHD adalah kurangnya atau tidak adanya konsentrasi pada diri anak, ketika anak bermain, belajar atau segala sesuatu yang dilakukan tidak bertahan lama. Perhatiannya mudah teralih, diikuti dengan perilakunya yang banyak, banyak gerak dan tidak bisa diam. Selain itu, anak biasanya juga terlihat sangat aktif dalam berbicara, dan perilakunya sering mengganggu orang lain.
B. Conduct Disorder
Conduct disorder ini merupakan perilaku yang melatarbelakangi seorang anak memiliki perilaku kekerasan, kenakalan atau kriminalitas. Perilaku yang ditampilkan dalam conduct disorder merupakan perilaku yang tidak menghargai hak-hak orang lain, melanggar aturan, norma-norma yang berlaku  atau pun hukum. Conduct disorder biasanya muncul sebelum masa pubertas, diperkirakan 9% terjadi pada laki-laki dan 2% pada anak-anak perempuan. Conduct disorder ini meliputi juga perilaku bermusuhan atau menyakiti orang lain.
C.  Oppositional Defiant Disorder
Oppositional defiant disorder biasanya terjadi pada anak-anak usia 8-12 tahun, dan lebih banyak terjadi pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan. Pada anak-anak dengan gangguan tersebut memiliki pandangan maupun perilaku negative dan menyimpang, biasanya disertai dengan komplain-komplain terhadap orang tua, sikap permusuhan dan kemampuan berargumentasi tentang apa yang dilakukannya. Reaksi-reaksi yang ditampilkan pada saat masa remaja adalah reaksi negative terhadap kemandirian. Kemungkinan besar anak-anak atau remaja dengan gangguan tersebut akan mengalami juga gangguan suasana perasaan(mood disorder) ataupun gangguan kepribadian pasif-agresif.
2. EMOTIONAL DISORDER
            Emotional Disorder adalah gangguan emosional pada anak-anak yang dapat berupa gangguan kecemasan ataupun gangguan mood. Dibawah ini ada 2 macam gangguan emosional, yaitu :
A.     Social Anxiety
Gangguan Kecemasan Sosial (Social Anxiety Disorder) juga disebut Fobia Sosial (Social Phobia), adalah gangguan kecemasan di mana seseorang memiliki ketakutan yang berlebihan dan tidak masuk akal dari situasi sosial. Kecemasan (ketakutan intens) dan kesadaran diri muncul dari rasa takut akan diawasi ketat, dihakimi, dan dikritik oleh orang lain.
Seseorang dengan kecemasan sosial gangguan takut bahwa ia akan melakukan kesalahan, terlihat buruk, dan malu atau dipermalukan di depan orang lain. Ketakutan dapat diperburuk oleh kurangnya keterampilan sosial atau pengalaman dalam situasi sosial. Kecemasan dapat membangun menjadi serangan panik. Sebagai hasil dari rasa takut, orang bertahan situasi sosial tertentu dalam kesulitan ekstrim atau mungkin menghindari mereka sama sekali. Selain itu, orang dengan gangguan kecemasan sosial sering menderita "antisipasi" kecemasan - ketakutan akan situasi bahkan sebelum terjadi - selama berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu sebelum acara. Dalam banyak kasus, orang menyadari bahwa ketakutan ini tidak masuk akal dan penderita tidak mampu untuk mengatasinya.
Orang dengan gangguan kecemasan sosial menderita pemikiran menyimpang, termasuk keyakinan yang salah tentang situasi sosial dan pendapat negatif orang lain. Tanpa pengobatan dan perawatan, gangguan kecemasan sosial dapat mengganggu kegiatan rutin sehari-hari orang tersebut, termasuk sekolah, pekerjaan, aktivitas sosial lainnya.
Orang dengan gangguan kecemasan sosial mungkin takut pada situasi tertentu, seperti berbicara di depan umum. Namun, kebanyakan orang dengan gangguan kecemasan sosial takut lebih dari satu situasi sosial. Situasi lain yang sering memprovokasi kecemasan meliputi:
  • Makan atau minum di depan orang lain.
  • Menulis atau bekerja di depan orang lain.
  • Menjadi pusat perhatian.
  • Berinteraksi dengan orang, termasuk kencan atau pergi ke pesta.
  • Mengajukan pertanyaan atau memberikan laporan dalam kelompok.
  • Menggunakan toilet umum.
  • Berbicara di depan umum.
Gangguan kecemasan sosial mungkin berhubungan dengan penyakit mental lain, seperti gangguan panik, gangguan obsesif kompulsif, dan depresi.

Apa Sajakah Gejala (Simptom) dari Social Anxiety Disorder?

Banyak orang dengan gangguan kecemasan sosial merasa bahwa ada "sesuatu yang salah," tetapi tidak mengakui perasaan mereka sebagai tanda keabnormalan. Gejala gangguan kecemasan sosial antara lain.
-          Intens kecemasan dalam situasi sosial.
-          Menghindari situasi sosial.
-          Fisik gejala kecemasan, termasuk kebingungan, jantung berdebar , berkeringat,  gemetar, tersipu, ketegangan otot, sakit perut, dan diare .
Anak-anak dengan gangguan ini dapat mengekspresikan kecemasan mereka dengan menangis, menempel orangtua, atau membuat ulah.
Apa Penyebab Gangguan Kecemasan Sosial?
Tidak ada penyebab tunggal gangguan kecemasan sosial, tetapi penelitian menunjukkan bahwa faktor biologis, psikologis, dan lingkungan mungkin memainkan peranan dalam perkembangannya.
  • Biologi: gangguan kecemasan sosial mungkin berhubungan dengan ketidakseimbangan neurotransmitter serotonin. Neurotransmitter adalah pembawa pesan kimia khusus yang membantu informasi bergerak dari sel saraf ke sel saraf lain di otak. Jika neurotransmitter tidak seimbang, pesan tidak bisa melalui otak dengan benar. Hal ini dapat mengubah cara otak bereaksi terhadap situasi stres, yang menyebabkan kecemasan. Selain itu, gangguan kecemasan sosial tampaknya keluarga. Ini berarti bahwa gangguan tersebut dapat diteruskan dalam keluarga melalui gen, materi yang berisi petunjuk untuk fungsi setiap sel dalam tubuh.
  • Psikologis: Perkembangan gangguan kecemasan sosial dapat berasal dari pengalaman memalukan di sebuah acara sosial di masa lalu.
  • Lingkungan: Orang dengan gangguan kecemasan sosial dapat mengembangkan ketakutan mereka dari mengamati perilaku orang lain atau melihat apa yang terjadi pada orang lain sebagai hasil dari perilaku mereka (seperti ditertawakan atau diolok-olok). Selanjutnya, anak-anak yang memiliki orang tua overprotective tidak dapat belajar mengenai keterampilan sosial yang baik sebagai bagian dari perkembangan normal mereka.

Tinjauan Pengobatan dan Treatment

Mengembangkan keterampilan yang Anda butuhkan dalam situasi sosial melalui berlatih dan bermain peran. Kecemasan Anda berkurang saat Anda menjadi lebih nyaman dengan dan siap menghadapi situasi sosial ditakuti.
Kognitif restrukturisasi. Terapi ini membantu Anda belajar untuk mengidentifikasi dan memperbaiki pemikiran takut untuk membantu Anda lebih Pengobatan untuk gangguan kecemasan sosial melibatkan konseling psikologis dan kadang-kadang obat-obatan (seperti antidepresan) untuk mengurangi kecemasan dan depresi terkait.
Kombinasi obat-obatan dan konseling profesional mungkin efektif untuk pengobatan jangka panjang bagi orang yang memiliki kecemasan umum dan ketakutan atas situasi sosial. Untuk mereka yang takut hanya satu atau beberapa situasi sosial (seperti berbicara di depan umum atau makan di depan lain-lain) mungkin hanya memerlukan konseling profesional untuk mengatasi/menghilangkan rasa takut.

Awal dan pengobatan lanjutan

Perawatan awal dari kecemasan sosial gangguan didasarkan pada seberapa buruk gejala emosional dan fisik dan kemampuan diri seseorang untuk berfungsi dalam kegiatan sehari-hari. Orang yang memiliki gangguan kecemasan sosial sering memiliki depresi juga. Mereka juga mungkin memiliki masalah dalam konsumsi alkohol atau  obat-obatan terlarang.
Gangguan kecemasan sosial sering kali tidak terdeteksi selama bertahun-tahun sebelum pengobatan dicari. Pada saat itu, seseorang mungkin telah mengembangkan perilaku yang mengakomodasi kekhawatiran. Kebiasaan atau perilaku harus diatasi untuk berhasil menghilangkan gangguan kecemasan sosial.
Pengobatan dengan kombinasi obat dan konseling profesional sering efektif untuk gangguan kecemasan umum sosial (takut interaksi yang paling umum). Beberapa orang membutuhkan perawatan sepanjang hidup mereka, sementara yang lain mungkin sembuh sepenuhnya setelah masa pengobatan dengan konseling dan obat-obatan
Hal ini dimungkinkan untuk mengatasi ketakutan yang berhubungan dengan gangguan kecemasan sosial. Bekerja dengan ketakutan dengan jenis tertentu dari terapi-terapi kognitif-perilaku yang mencakup paparan terapi-mungkin pendekatan yang terbaik untuk mengobati kecemasan Anda. Penting untuk melanjutkan konseling profesional bahkan jika Anda mengambil obat untuk mengurangi kecemasan.
Jenis konseling yang paling sering digunakan untuk mengobati gangguan kecemasan sosial meliputi:
  • Terapi kognitif-perilaku , yang membantu Anda mengidentifikasi kecemasan dan situasi yang memprovokasi kecemasan. Pada awalnya Anda mungkin merasa tidak nyaman sambil menanggapi situasi ditakuti, tetapi merupakan bagian penting dari pemulihan Anda. Beberapa jenis terapi kognitif-perilaku yang digunakan untuk mengobati gangguan kecemasan sosial, termasuk:
    • Paparan terapi . Anda akan dipandu oleh seorang konselor profesional untuk membayangkan Anda menghadapi situasi ditakuti sampai Anda tidak lagi takut itu, seperti makan di depan umum. Selanjutnya, Anda dapat pergi dengan konselor Anda ke tempat umum dan makan sampai, akhirnya, Anda bisa makan sendiri di depan umum tanpa rasa takut.
    • Pelatihan ketrampilan sosial. Terapi ini membantu Anda menangani situasi sosial.
    • Gejala manajemen keterampilan. Terapi ini mengajarkan Anda bagaimana untuk mengurangi stres dengan mengendalikan pernapasan Anda dan tanggapan fisik lainnya untuk kecemasan.
  • Mendukung terapi. Hal ini dapat mencakup:
    • Pendidikan tentang gangguan tersebut.
    • Terapi keluarga , untuk mendukung yang dicintai dipengaruhi oleh kondisi Anda.
    • Kelompok terapi atau kelompok pendukung, mencari dukungan dari orang lain juga didiagnosis dengan gangguan tersebut.

B.     Depressive Disorder
Yaitu  gejala afeksi, fisiologi dan kognitif seperti mood depresi, gangguan proses fisiologis (gang. tidur, kelambanan), kesulitan konsentrasi. Depresi ini juga sering disertai dengan berbagai masalah psikologis dan klinis, khususnya keinginan/perilaku bunuh diri. Cara untuk mendeteksi depresi ditandai dengan berbagai gejala “internalized” seperti perasaan sedih dan bersalah. Untuk mengenali depresi pada anak, penting untuk menjadi sadar akan tanda-tanda dan gejalanya. Untuk mengenali depresi pada anak, penting untuk menjadi sadar akan tanda-tanda dan gejalanya. Karena anak-anak tidak seperti orang dewasa dalam mengekspresikan emosi mereka, Tidak mungkin anak akan datang kepada orang lain dan berkata "Saya depresi" seperti orang dewasa yang mungkin lakukan. Bahkan, mereka mungkin tidak menyadari  bahwa ada sesuatu yang salah dalam diri mereka. Anak-anak hidup di dunia yang dikendalikan oleh orang dewasa dan dapat dengan mudah merasa tidak berdaya atas apa yang terjadi pada mereka. Hal ini merupakan tanggung jawab kita sebagai orang dewasa untuk mengenali tanda-tanda depresi anak dan membantu mereka mengatasinya.
Tanda-tanda depresi pada anak-anak dibagi menjadi empat kategori yang berbeda, namun tidak setiap anak yang depresi mengalami setiap gejala.
Gejal Emosional pada Anak yang Depresi
Suasana hati atau emosi yang khas yang dialami oleh anak-anak menderita depresi, yaitu:
  • Kesedihan
Anak mungkin merasa sedih dan putus asa. Mereka mungkin menangis dengan mudah.
  • Kehilangan kesenangan atau minat
Seorang anak yang selalu menikmati bermain olahraga, misalnya, tiba-tiba dapat memutuskan untuk tidak mencoba untuk tim tahun ini. Mereka mungkin mengeluh merasa "bosan" atau menolak tawaran untuk berpartisipasi dalam suatu kegiatan, yang mereka selalu dinikmati di masa lalu.
  • Kecemasan
Anak mungkin menjadi cemas, tegang, dan panik.  Sumber kecemasan mereka dapat memberikan petunjuk yang baik  untuk mengenali apa yang menyebabkan mereka menjadi depresi
  • Kekacauan
Anak mungkin merasa khawatir dan mudah marah. Mereka mungkin melamun atau menyerang dalam kemarahan akibat penderitaan yang mereka rasakan.
Gejala Kognitif pada Anak yang Depresi
Suasana hati yang depresif  dapat membawa dampak  negatif yang merugikan diri  dan pikiran anak. Gejala yang harus dikenali adalah :
  • Kesulitan mengorganisir pikiran
Penderita depresi sering mengalami masalah dalam berkonsentrasi atau mengingat. Pada anak-anak, hal ini dapat dibuktikan dengan masalah pembelajaran di sekolah atau ketidakmampuan untuk menyelesaikan tugas.
  • Pandangan negatif
Orang dengan depresi mungkin menjadi pesimis, dan menganggap diri mereka, kehidupan mereka, dan dunia mereka dalam pemikiran yang sangat negatif.
  • Tidak berharga dan bersalah
Anak yang depresi mungkin merasa bersalah luar biasa dan menganggap diri tidak berharga jika mereka melakukan kesalahan atau kegagalan.
  • Ketidakberdayaan dan keputusasaan
Anak yang depresi sering percaya bahwa tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk meringankan perasaan mereka yang depresif.
  • Perasaan isolasi
Seorang anak yang depresi sering menjadi sangat sensitif terhadap penghinaan dari teman-temannya.
  • Pikiran bunuh diri
Pikiran tentang kematian tidak terbatas pada orang dewasa. Anak-anak juga mungkin ingin mati karena rasa keputusasaan yang mendalam.
Gejala Fisik pada Anak yang Depresi
Depresi bukan hanya penyakit tentang pikiran. Hal ini menyebabkan perubahan dalam diri secara fisik juga.
  • Perubahan nafsu makan atau berat badan
Banyak orang dengan depresi menemukan bahwa nafsu makan mereka turun drastic atau meningkat drastis. Anak-anak yang biasanya memiliki nafsu makan yang baik tiba-tiba kehilangannafsu makan. Akan tetapi anak-anak juga dapat merespon dengan cara yang berlawanan dengan makan terlalu banyak untuk menghibur diri dan perasaan mereka.
  • Gangguan tidur
Anak-anak yang depresi mungkin mengalami kesulitan tidur. Mereka mungkin bangun terlalu awal atau kesiangan. Mereka mungkin sulit untuk tetap terjaga di siang hari di sekolah.
  • Kelesuan
Anak-anak yang depresi sering berbicara, bereaksi, dan berjalan dengan lambat. Mereka mungkin menjadi kurang aktif.
  • Agitasi
Anak-anak dengan depresi mungkin menunjukkan tanda-tanda agitasi yaitu gelisah atau tidak bisa duduk diam.
Gejala Perilaku pada Anak yang Depresi
Gejala ini akan menjadi yang paling nyata dan mudah untuk mendeteksianak yang depresi.
  • Penghindaran dan penarikan
Anak-anak dengan depresi mungkin menghindari kegiatan sehari-hari dan menghindari tanggung jawab. Mereka mungkin menarik diri dari teman dan keluarga atau lebih tepatnya dari hubungan sosial. Kamar tidur dapat menjadi tempat favorit untuk melarikan diri dan menyendiri.
  • Menuntut
Anak yang depresi dapat menjadi lebih tergantung pada beberapa hubungan dan berperilaku dengan rasa ketidakamanan berlebihan.
  • Overacting
Seorang anak depresi mungkin tampak di luar kendali dalam hal kegiatan tertentu. Ia mungkin menghabiskan berjam-jam bermain video game atau makan berlebihan.
  • Gelisah
Kegelisahan yang disebabkan oleh depresi dapat menyebabkan perilaku seperti gelisah, bertingkah ugal-ugalan di kelas, atau berperilaku sembrono.
  • Self-Harm
Penderita depresi dapat mengambil atau melakukan tindakan yang beresiko bagi diri mereka. Melukai diri adalah salah satu contoh dari perilaku tersebut.
Terapi untuk Anak yang mengalami depresi
Psikoterapi
Karena kekhawatiran tentang keamanan obat, orang tua sering memilih untuk mencoba psikoterapi sebelum beralih ke pengobatan. Psikoterapi dapat membantu anak-anak untuk membantu mereka memilah-milah perasaan mereka dan belajar keterampilan yang mereka butuhkan untuk mengatasi tekanan hidup.
Ada banyak pendekatan teoritis dalam psikoterapi, tapi mungkin yang paling efektif dalam pengobatan depresi masa kecil adalah terapi kognitif-perilaku. Jenis terapi berfokus pada peran sistem pemikiran dan keyakinan sebagai akar depresi. Orang dengan depresi memiliki pola piker dengan karakteristik tertentu, yang disebut distorsi kognitif, yang memberi mereka persepsi negative tentang dunia di sekitar mereka. Selama terapi kognitif-perilaku, psikolog bekerja dengan pasien untuk membantu mereka mengenali pikiran disfungsional mereka dan mengubah pemikiran mereka menjadi pemikiran dengan perspektif yang lebih realistis.
Jenis lain dari terapi yang dapat membantu dengan depresi anak meliputi: terapi interpersonal, yang berfokus pada hubungan interpersonal dan mengatasi konflik; terapi keluarga, yang berfokus pada pentingnya hubungan keluarga dalam kesehatan psikologis, dan terapi bermain, yang memanfaatkan anak-anak untuk terlibat dalam permainan dan untuk membantu mereka mengatasi melalui konflik batin mereka.
3. DEVELOPMENTAL AND LEARNING DISORDER
            Learning disorder adalah gangguan pada masa anak-anak dimana anak-anak tersebut mendapat kesulitan membaca, mengeja, berkonsentrasi, dan lain-lain. Ada 3 macam Developmental and Learning Disorder, yaitu :
A. Mental Retardation
Mental Retardation adalah gangguan umum yang muncul sebelum dewasa, ditandai dengan gangguan fungsi kognitif dan defisit dalam dua atau lebih perilaku adaptif. Klasifikasinya biasanya diatur oleh IQ. Anak-anak dengan IQ 55-70 dinamakan Mild Mental Retardation, 40-54 Moderate Mental Retardation, 25- 39 Severe Mental Retardation, dan di bawah 20 atau 25 Profound Mental Retardation. Kebanyakan Mental Retardation terjadi pada usia dibawah 18 tahun. Mental Retardation juga kebanyakan terjadi pada pria daripada wanita.
Beberapa penyebab Mental Retardation :
1. Faktor Genetik
2. Gangguan pada Saat Hamil
3. Gangguan pada Saat Kelahiran

Beberapa Gangguan akibat Mental Retardation, yaitu :
1. Penurunan Kemampuan Belajar
2. Ketidakmampuan untuk Memenuhi Kebutuhan Pendidikan di Sekolah
3. Kurangnya Rasa Ingin Tahu

            Mental Retardation dapat disembuhkan dengan cara Treatment. Tujuan utama dari pengobatan adalah untuk mengembangkan potensi orang tersebut secara maksimal. Pendidikan dan pelatihan khusus dapat dimulai pada awal masa bayi. Ini termasuk keterampilan sosial untuk membantu orang tersebut berkelakuan senormal mungkin. Hal yang harus dilakukan adalah pendekatan perilaku. Pendekatan Perilaku adalah hal yang paling penting untuk orang yang mengidap Mental Retardation.

B. Autism Spectrum Disorder
ASD juga disebut gangguan perkembangan yang meluas, mereka berkisar dari gangguan autis parah yang tidak teratur terhadap gangguan ringan yang disebut Asperger syndrome.Anak-anak yang mengalami gangguan ini dicirikan oleh masalah dalam interaksi sosial, komunikasi verbal dan nonverbal, dan perilaku repetitif.
Autism Disorder adalah gangguan spektrum autisme parah yang terjadi dalam tiga tahun pertama kehidupan dan termasuk kekurangan dalam hubungan sosial, kelainan dalam komunikasi, dan pola terbatas, berulang, dan perilaku stereotipe.
Asperger sindrom adalah kondisi autis yang spektrum gangguannya relatif ringan di mana anak umumnya memiliki kemampuan verbal yang relatif baik, lebih ringan daripada masalah kemampuan bahasa nonverbal, dan berbagai terbatas kepentingan dan hubungan.
Kasus faktual autisme dimulai pada tahun 1943, ketika psikiater Leo Kanner menjelaskan 11 anak, yang dalam beberapa tahun pertama, menarik diri dari pergaulan, menghindari kontak mata, tidak memiliki kesadaran sosial.
Anak autis berperilaku dengan cara yang tidak biasa dan sering membingungkan. Mereka mungkin memekik kegirangan saat melihat roda berputar pada mobil mainan, namun mengabaikan seseorang jika seseorang mencoba untuk bermain dengan mereka. Ketika Anda berbicara dengan anak dengan autis, dia dapat bertindak seolah-olah dia adalah tuli.
Banyak Anak-anak dengan autisme menampilkan rasa takut yang ekstrim atau menghindari objek yang ribut atau bergerak. Mereka juga tertarik dan sibuk dengan benda-benda dan kegiatan lainnya. Anak-anak dengan autisme mengalami kesulitan besar dalam berhubungan dengan orang lain, termasuk meniru orang lain, berbagi fokus dengan orang lain juga melihat dan memahami perasaan orang lain.

Ada 2 faktor yang menyebabkan Autism :
1.      Pengaruh Genetik
2.      Kelainan pada Otak

C.     Learning Disorder (Mianty)
Gangguan belajar meliputi ketidakmampuan untuk memperoleh, menyimpan, atau menggunakan keahlian khusus atau informasi secara luas, dihasilkan dari kekurangan perhatian, ingatan, atau pertimbangan dan mempengaruhi performa akademi.Gangguan belajar sangat berbeda dari keterlambatan mental dan terjadi dengan normal atau bahkan  dengan fungsi intelektual tinggi. Gangguan belajar hanya mempengaruhi fungsi tertentu, sedangkan pada anak dengan keterlambatan mental, kesulitan mempengaruhi fungsi kognitif secara luas. Terdapat tiga jenis gangguan belajar : gangguan membaca, gangguan menuliskan ekspresi, dan gangguan matematik. Dengan demikian, seorang anak dengan gangguan belajar bisa mengalami kesulitan memahami dan mempelajari matematika yang signifikan, tetapi tidak memiliki kesulitan untuk membaca, menulis, dan melakukan dengan baik pada subjek yang lain. Diseleksia adalah gangguan belajar yang paling dikenal. Gangguan belajar tidak termasuk masalah belajar yang disebabkan terutama masalah penglihatan, pendengaran, koordinasi, atau gangguan emosional.
Penyebab
Meskipun penyebab gangguan belajar tidak sepenuhnya dimengerti. Mereka termasuk kelainan pada proses dasar yang berhubungan dalam memahami atau menggunakan ucapan atau penulisan bahasa atau numerik dan pertimbangan ruang. Diperkirakan 3 sampai 15% anak bersekolah di Amerika Serikat memerlukan pelayanan pendidikan khusus untuk menggantikan gangguan belajar. Anak laki-laki dengan gangguan belajar bisa melebihi anak gadis lima banding satu, meskipun anak perempuan seringkali tidak dikenali atau terdiagnosa mengalami gangguan belajar. Kebanyakan anak dengan masalah tingkah laku tampak kurang baik di sekolah dan diperiksa dengan psikologis pendidikan untuk gangguan belajar. Meskipun begitu, beberapa anak dengan jenis gangguan belajar tertentu menyembunyikan gangguan mereka dengan baik, menghindari diagnosa, dan oleh karena itu pengobatan, perlu waktu yang lama.
            Gejala
Anak kecil kemungkinan lambat untuk mempelajari nama-nama warna atau huruf, untuk menyebutkan kata-kata untuk objek yang dikenal, untuk menghitung, dan untuk kemajuan pada awal keahlian belajar lain. Belajar untuk membaca dan menulis kemungkinan tertunda. Gejala-gejala lain dapat berupa perhatian dengan jangka waktu yang pendek dan kemampuan yang kacau, berhenti bicara, dan ingatan dengan jangka waktu yang pendek. Anak tersebut bisa mengalami kesulitan dengan aktifitas yang membutuhkan koordinasi motor yang baik, seperti mencetak dan mengkopi. Anak dengan gangguan belajar bisa mengalami kesulitan komunikasi. Beberapa anak mulanya menjadi frustasi dan kemudian mengalami masalah tingkah laku, seperti menjadi mudah kacau, hiperaktif, menarik diri, malu, atau agresif.
Diagnosa
Anak yang tidak membaca atau belajar pada tingkatan yang diharapkan untuk kemampuan verbal atau kecerdasan harus dievaluasi. Pemeriksaan pendengaran dan penglihatan harus dijalankan, karena masalah pikiran sehat ini bisa juga berhubungan dengan keahlian membaca dan menulis. Dokter meneliti anak tersebut untuk berbagai gangguan fisik. Anak tersebut melakukan rangkaian tes kecerdasan, baik verbal maupun non verbal, dan tes akademik pada membaca, menulis, dan keahlian aritmatik.
Pengobatan
Pengobatan yang paling berguna untuk gangguan belajar adalah pendidikan yang secara hati-hati disesuaikan dengan individu anak. Cara seperti membatasi makanan aditif, menggunakan vitamin dalam jumlah besar, dan menganalisa sistem anak untuk trace mineral seringkali dicoba tetapi tidak terbukti. Tidak ada obat-obatan yang cukup efektif pada pencapaian akademis, intelegensi, dan kemampuan pembelajaran umum. Karena beberapa anak dengan gangguan belajar juga mengalami ADHD, obat-obatan tertentu, seperti methylphenidate, bisa meningkatkan perhatian dan konsentrasi, meningkatkan kemampuan anak untuk belajar.

Jenis jenis Gangguan Belajar/Learning Disorders (LD):
1.Gangguan Membaca (Disleksia)
Apa yang dimaksud dengan disleksia?
Disleksia berasal dari bahasa Greek, yakni dari kata ”dys” yang berarti kesulitan, dan kata ”lexis” yang berarti bahasa. Jadi disleksia secara harafiah berarti ” kesulitan dalam berbahasa.” Anak disleksia tidak hanya mengalami kesulitan dalam membaca, tapi juga dalam hal mengeja, menulis dan beberapa aspek bahasa yang lain. Kesulitan membaca pada anak disleksia tidak sebanding dengan tingkat intelegensi ataupun motivasi yang dimiliki untuk kemampuan membaca dengan lancar dan akurat, karena anak disleksia biasanya mempunyai lebel intelegensi yang normal bahkan sebagian di antaranya di atas normal. Disleksia merupakan kelainan dengan dasar kelainan neurobiologis, yang ditandai dengan kesulitan dalam mengenali kata dengan tepat / akurat, dalam pengejaan dan dalam kemampuan mengkode simbol.
Ada juga ahli yang mendefinisikan disleksia sebagai suatu kondisi pemprosesan input/informasi yang berbeda (dari anak normal) yang seringkali ditandai dengan kesulitan dalam membaca, yang dapat mempengaruhi cara kognisi seperti daya ingat, kecepatan pemprosesan input, kemampuan pengaturan waktu, aspek koordinasi dan pengendalain gerak. Dapat terjadi kesulitan visual dan fonologis, dan biasanya terdapat perbedaan kemampuan di berbagai aspek perkembangan.
Menurut Jovita Maria Ferliana (dalam pengantar Living with Dyslexia, 2007), penderita disleksia sebenarnya mengalami kesulitan membedakan bunyi fonetik yang menyusun sebuah kata. Mereka bisa menangkap kata-kata tersebut dengan indera pendengarnya. Namun, ketika harus menuliskannya dengan huruf-huruf yang mana saja. Dengan demikian, dia juga kesulitan menuliskan apa yang ia inginkan ke dalam kalimat-kalimat panjang yang akurat.
2. Disleksia dan otak kita.
Beberapa teori mengemukakan penyebab disleksia. Selikowitz (1993) mengemukakan beberapa penyebab utama disleksia. Selikowitz membagi pada dua keadaan penyebab secara umum, yakni faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetis, yaitu dari garis keturunan orangtuanya (tidak harus orangtua langsung, bisa dari kakek-nenek atau buyutnya).
Penelitian terkini menunjukkan bahwa terdapat anatomi antara otak anak disleksia dengan anak normal, yakni di bagian temporal-parietal-oksipitalnya (otak bagian samping dan bagian belakang). Pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging yang dilakukan untuk memeriksa otak saat dilakukan aktivitas membaca ternyata menunjukkan bahwa aktivitas otak individu disleksia jauh berbeda dengan individu biasa terutama dalam hal pemprosesan input huruf/kata yang dibaca lalu ”diterjemahkan” menjadi suatu makna.
4. Diagnosis Disleksia pada Anak
Tidak ada satu jenis tes pun yang khusus atau spesifik untuk menegakkan diagnosis disleksia. Diagnosis disleksia ditegakkan secara klinis berdasarkan cerita dari orang tua, observasi dan tes psikometrik yang dilakukan oleh dokter anak atau psikolog. Selain dokter anak dan psikolog, profesional lain seyogyanya juga terlibat dalam observasi dan penilaian anak disleksia yaitu dokter saraf anak (mendeteksi dan menyingkirkan adanya gangguan neurologis), audiologis (mendeteksi dan menyingkirkan adanya gangguan pendengaran), opthalmologis (mendeteksi dan menyingkirkan adanya gangguan penglihatan), dan tentunya guru sekolah.
Anak disleksia di usia pra sekolah menunjukkan adanya keterlambatan berbahasa atau mengalami gangguan dalam mempelajari kata-kata yang bunyinya mirip atau salah dalam pelafalan kata-kata, dan mengalami kesulitan untuk mengenali huruf-huruf dalam alphabet, disertai dengan riwayat disleksia dalam keluarga. Keluhan utama pada anak disleksia di usia sekolah biasanya berhubungan dengan prestasi sekolah, dan biasanya orang tua ”tidak terima” jika guru melaporkan bahwa penyebab kemunduran prestasinya adalah kesulitan membaca. Kesulitan yang dikeluhkan meliputi kesulitan dalam berbicara dan kesulitan dalam membaca.
• Kesulitan mengenali huruf atau mengejanya.
• Kesulitan membuat pekerjaan tertulis secara terstruktur misalnya esai
• Huruf tertukar-tukar, misal ’b’ tertukar ’d’, ’p’ tertukar ’q’, ’m’ tertukar ’w’, ’s’ tertukar ’z’
• Membaca lambat dan terputus-putus serta tidak tepat.
• Menghilangkan atau salah baca kata penghubung (“di”, “ke”, “pada”).
• Mengabaikan kata awalan pada waktu membaca (“menulis” dibaca sebagai “tulis”).
Dll
4. Penyembuhan Disleksia
Penelitian retrospektif menunjukkan disleksia merupakan suatu keadaan yang menetap dan kronis. “Ketidak mampuannya” di masa anak yang nampak seperti “menghilang” atau “berkurang” di masa dewasa bukanlah kareana disleksia nya telah sembuh namun karena individu tersebut berhasil menemukan solusi untuk mengatasi kesulitan yang diakibatkan oleh disleksia nya tersebut. Mengingat demikian “kompleks”nya keadaan disleksia ini, maka sangat disarankan bagi orang tua yang merasa anaknya menunjukkan tanda-tanda seperti tersebut di atas, agar segera membawa anaknya berkonsultsi kepada tenaga medis profesional yang kapabel di bidang tersebut. Karena semakin dini kelainan ini dikenali, semakin “mudah” pula intervensi yang dapat dilakukan, sehingga anak tidak terlanjur larut dalam kondisi yang lebih parah.
Bantuan yang dapat diberikan kepada penderita disleksia :
- Adanya komunikasi dan pemahaman yang sama mengenai anak disleksia antara orang tua dan guru
- Anak duduk di barisan paling depan di kelas
- Guru senantiasa mengawasi / mendampingi saat anak diberikan tugas, misalnya guru meminta dibuka halaman 15, pastikan anak tidak tertukar dengan membuka halaman lain, misalnya halaman 50
- Guru dapat memberikan toleransi pada anak disleksia saat menyalin soal di papan tulis sehingga mereka mempunyai waktu lebih banyak untuk menyiapkan latihan (guru dapat memberikan soal dalam bentuk tertulis di kertas)
- Anak disleksia yang sudah menunjukkkan usaha keras untuk berlatih dan belajar harus diberikan penghargaan yang sesuai dan proses belajarnya perlu diseling dengan waktu istirahat yang cukup.
- Melatih anak menulis sambung sambil memperhatikan cara anak duduk dan memegang pensilnya. Tulisan sambung memudahkan murid membedakan antara huruf yang hampir sama misalnya ’b’ dengan ’d’. Murid harus diperlihatkan terlebih dahulu cara menulis huruf sambung karena kemahiran tersebut tidak dapat diperoleh begitu saja. Pembentukan huruf yang betul sangatlah penting dan murid harus dilatih menulis huruf-huruf yang hampir sama berulang kali. Misalnya huruf-huruf dengan bentuk bulat: ”g, c, o, d, a, s, q”, bentuk zig zag: ”k, v, x, z”, bentuk linear: ”j, t, l, u, y”, bentuk hampir serupa: ”r, n, m, h”.
- Guru dan orang tua perlu melakukan pendekatan yang berbeda ketika belajar matematika dengan anak disleksia, kebanyakan mereka lebih senang menggunakan sistem belajar yang praktikal. Selain itu kita perlu menyadari bahwa anak disleksia mempunyai cara yang berbeda dalam menyelesaikan suatu soal matematika, oleh karena itu tidak bijaksana untuk ”memaksakan” cara penyelesaian yang klasik jika cara terebut sukar diterima oleh sang anak.
- Aspek emosi. Anak disleksia dapat menjadi sangat sensitif, terutama jika mereka merasa bahwa mereka berbeda dibanding teman-temannya dan mendapat perlakukan yang berbeda dari gurunya. Lebih buruk lagi jika prestasi akademis mereka menjadi demikian buruk akibat ”perbedaan” yang dimilikinya tersebut. Kondisi ini akan membawa anak menjadi individu dengan ”self-esteem” yang rendah dan tidak percaya diri. Dan jika hal ini tidak segera diatasi akan terus bertambah parah dan menyulitkan proses terapi selanjutnya. Orang tua dan guru seyogyanya adalah orang-orang terdekat yang dapat membangkitkan semangatnya, memberikan motivasi dan mendukung setiap langkah usaha yang diperlihatkan anak disleksia. Jangan sekali-sekali membandingkan anak disleksia dengan temannya, atau dengan saudaranya yang tidak disleksia.
2. Gangguan Matematik (Diskalkulia)
Diskalkulia dikenal juga dengan istilah “math difficulty” karena menyangkut gangguan pada kemampuan kalkulasi secara matematis. Kesulitan ini dapat ditinjau secara kuantitatif yang terbagi menjadi bentuk kesulitan berhitung (counting) dan mengkalkulasi (calculating). Anak yang bersangkutan akan menunjukkan kesulitan dalam memahami proses-proses matematis. Hal ini biasanya ditandai dengan munculnya kesulitan belajar dan mengerjakan tugas yang melibatkan angka ataupun simbol matematis.
CIRI-CIRI
Inilah beberapa cirri untuk anak yang memiliki gangguan disleksia:
1. Tingkat perkembangan bahasa dan kemampuan lainnya normal, malah seringkali mempunyai memori visual yang baik dalam merekam kata-kata tertulis.
2. Sulit melakukan hitungan matematis. Contoh sehari-harinya, ia sulit menghitung transaksi (belanja), termasuk menghitung kembalian uang. Seringkali anak tersebut jadi takut memegang uang, menghindari transaksi, atau apa pun kegiatan yang harus melibatkan uang.
3. Sulit melakukan proses-proses matematis, seperti menjumlah, mengurangi, membagi, mengali, dan sulit memahami konsep hitungan angka atau urutan.
4. Terkadang mengalami disorientasi, seperti disorientasi waktu dan arah. Si anak biasanya bingung saat ditanya jam berapa sekarang. Ia juga tidak mampu membaca dan memahami peta atau petunjuk arah.
5. Mengalami hambatan dalam menggunakan konsep abstrak tentang waktu. Misalnya, ia bingung dalam mengurut kejadian masa lalu atau masa mendatang.
6. Sering melakukan kesalahan ketika melakukan perhitungan angka-angka, seperti proses substitusi, mengulang terbalik, dan mengisi deret hitung serta deret ukur.
7. Mengalami hambatan dalam mempelajari musik, terutama karena sulit memahami notasi, urutan nada, dan sebagainya.
8. Bisa juga mengalami kesulitan dalam aktivitas olahraga karena bingung mengikuti aturan main yang berhubungan sistem skor.
FAKTOR PENYEBAB
Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi gangguan ini, di antaranya:
1. Kelemahan pada proses penglihatan atau visual
Anak yang memiliki kelemahan ini kemungkinan besar akan mengalami diskalkulia. Ia juga berpotensi mengalami gangguan dalam mengeja dan menulis dengan tangan.
2. Bermasalah dalam hal mengurut informasi
Seorang anak yang mengalami kesulitan dalam mengurutkan dan mengorganisasikan informasi secara detail, umumnya juga akan sulit mengingat sebuah fakta, konsep ataupun formula untuk menyelesaikan kalkulasi matematis. Jika problem ini yang menjadi penyebabnya, maka anak cenderung mengalami hambatan pada aspek kemampuan lainnya, seperti membaca kode-kode dan mengeja, serta apa pun yang membutuhkan kemampuan mengingat kembali hal-hal detail.
3. Fobia matematika
Anak yang pernah mengalami trauma dengan pelajaran matematika bisa kehilangan rasa percaya dirinya. Jika hal ini tidak diatasi segera, ia akan mengalami kesulitan dengan semua hal yang mengandung unsur hitungan.
CARA PENANGGULANGAN
Diagnosa diskalkulia harus dilakukan oleh spesialis yang berkompeten di bidangnya berdasarkan serangkaian tes dan observasi yang valid dan terpercaya. Bentuk terapi atau treatment yang akan diberikan pun harus berdasarkan evaluasi terhadap kemampuan dan tingkat hambatan anak secara detail dan menyeluruh.
Bagaimanapun, kesulitan ini besar kemungkinan terkait dengan kesulitan dalam aspek-aspek lainnya, seperti disleksia. Perbedaan derajat hambatan akan membedakan tingkat treatment dan strategi yang diterapkan. Selain penanganan yang dilakukan ahli, orang tua pun disarankan melakukan beberapa latihan yang dapat mengurangi gangguan belajar, yaitu:
1. Cobalah memvisualisasikan konsep matematis yang sulit dimengerti, dengan menggunakan gambar ataupun cara lain untuk menjembatani langkah-langkah atau urutan dari proses keseluruhannya.
2. Bisa juga dengan menyuarakan konsep matematis yang sulit dimengerti dan minta si anak mendengarkan secara cermat. Biasanya anak diskalkulia tidak mengalami kesulitan dalam memahami konsep secara verbal.
3. Tuangkan konsep matematis ataupun angka-angka secara tertulis di atas kertas agar anak mudah melihatnya dan tidak sekadar abstrak. Atau kalau perlu, tuliskan urutan angka-angka itu untuk membantu anak memahami konsep setiap angka sesuai dengan urutannya.
4. Tuangkan konsep-konsep matematis dalam praktek serta aktivitas sederhana sehari-hari. Misalnya, berapa sepatu yang harus dipakainya jika bepergian, berapa potong pakaian seragam sekolahnya dalam seminggu, berapa jumlah kursi makan yang diperlukan jika disesuaikan dengan anggota keluarga yang ada, dan sebagainya.
5. Sering-seringlah mendorong anak melatih ingatan secara kreatif, entah dengan cara menyanyikan angka-angka, atau cara lain yang mempermudah menampilkan ingatannya tentang angka.
6. Pujilah setiap keberhasilan, kemajuan atau bahkan usaha yang dilakukan oleh anak.
7. Lakukan proses asosiasi antara konsep yang sedang diajarkan dengan kehidupan nyata sehari-hari, sehingga anak mudah memahaminya.
8. Harus ada kerja sama terpadu antara guru dan orang tua untuk menentukan strategi belajar di kelas, memonitor perkembangan dan kesulitan anak, serta melakukan tindakan-tindakan yang perlu untuk memfasilitasi kemajuan anak. Misalnya, guru memberi saran tertentu pada orang tua dalam menentukan tugas di rumah, buku-buku bacaan, serta latihan yang disarankan.

3. Gangguan Menulis (Disgrafia)
Kelainan neurologis ini menghambat kemampuan menulis yang meliputi hambatan secara fisik, seperti tidak dapat memegang pensil dengan mantap ataupun tulisan tangannya buruk. Anak dengan gangguan disgrafia sebetulnya mengalami kesulitan dalam mengharmonisasikan ingatan dengan penguasaan gerak ototnya secara otomatis saat menulis huruf dan angka.
Kesulitan dalam menulis biasanya menjadi problem utama dalam rangkaian gangguan belajar, terutama pada anak yang berada di tingkat SD. Kesulitan dalam menulis seringkali juga disalahpersepsikan sebagai kebodohan oleh orang tua dan guru. Akibatnya, anak yang bersangkutan frustrasi karena pada dasarnya ia ingin sekali mengekspresikan dan mentransfer pikiran dan pengetahuan yang sudah didapat ke dalam bentuk tulisan. Hanya saja ia memiliki hambatan.
Sebagai langkah awal dalam menghadapinya, orang tua harus paham bahwa disgrafia bukan disebabkan tingkat intelegensi yang rendah, kemalasan, asal-asalan menulis, dan tidak mau belajar. Gangguan ini juga bukan akibat kurangnya perhatian orang tua dan guru terhadap si anak, ataupun keterlambatan proses visual motoriknya.
CIRI-CIRI
Ada beberapa ciri khusus anak dengan gangguan ini. Di antaranya adalah:
1. Terdapat ketidakkonsistenan bentuk huruf dalam tulisannya.
2. Saat menulis, penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur.
3. Ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional.
4. Anak tampak harus berusaha keras saat mengkomunikasikan suatu ide, pengetahuan, atau pemahamannya lewat tulisan.
5. Sulit memegang bolpoin maupun pensil dengan mantap. Caranya memegang alat tulis seringkali terlalu dekat bahkan hampir menempel dengan kertas.
6. Berbicara pada diri sendiri ketika sedang menulis, atau malah terlalu memperhatikan tangan yang dipakai untuk menulis.
7. Cara menulis tidak konsisten, tidak mengikuti alur garis yang tepat dan proporsional.
8. Tetap mengalami kesulitan meskipun hanya diminta menyalin contoh tulisan yang sudah ada.
MEMBANTU ANAK DISGRAFIA
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu anak dengan gangguan ini. Di antaranya:
1. Pahami keadaan anak
Sebaiknya pihak orang tua, guru, atau pendamping memahami kesulitan dan keterbatasan yang dimiliki anak disgrafia. Berusahalah untuk tidak membandingkan anak seperti itu dengan anak-anak lainnya. Sikap itu hanya akan membuat kedua belah pihak, baik orang tua/guru maupun anak merasa frustrasi dan stres. Jika memungkinkan, berikan tugas-tugas menulis yang singkat saja. Atau bisa juga orang tua meminta kebijakan dari pihak sekolah untuk memberikan tes kepada anak dengan gangguan ini secara lisan, bukan tulisan.
2. Menyajikan tulisan cetak
Berikan kesempatan dan kemungkinan kepada anak disgrafia untuk belajar menuangkan ide dan konsepnya dengan menggunakan komputer atau mesin tik. Ajari dia untuk menggunakan alat-alat agar dapat mengatasi hambatannya. Dengan menggunakan komputer, anak bisa memanfaatkan sarana korektor ejaan agar ia mengetahui kesalahannya.
3. Membangun rasa percaya diri anak
Berikan pujian wajar pada setiap usaha yang dilakukan anak. Jangan sekali-kali menyepelekan atau melecehkan karena hal itu akan membuatnya merasa rendah diri dan frustrasi. Kesabaran orang tua dan guru akan membuat anak tenang dan sabar terhadap dirinya dan terhadap usaha yang sedang dilakukannya.
4. Latih anak untuk terus menulis
Libatkan anak secara bertahap, pilih strategi yang sesuai dengan tingkat kesulitannya untuk mengerjakan tugas menulis. Berikan tugas yang menarik dan memang diminatinya, seperti menulis surat untuk teman, menulis pada selembar kartu pos, menulis pesan untuk orang tua, dan sebagainya. Hal ini akan meningkatkan kemampuan menulis anak disgrafia dan membantunya menuangkan konsep abstrak tentang huruf dan kata dalam bentuk tulisan konkret.

BERBAGAI JENIS GANGGUAN FISIK DAN PSIKIATRIK YANG BERHUBUNGAN DENGAN TIMBULNYA GANGGUAN BELAJAR PADA ANAK
I. GANGGUAN FISIK
Gangguan dalam sistim saraf pusat/otak anak atau organ pendengaran atau organ penglihatan, misalnya oleh karena adanya infeksi baik langsung maupun tidak langsung pada otak, trauma pada otak, penyakit bawaan, gangguan konduksi listrik ( epilepsi ), gangguan metabolic sistemik, dll. Semua ini dapat yang menyebabkan timbulnya disfungsi otak minimal, yang mungkin bermanifestasi dalam berbagai bentuk gangguan psikiatrik, di antaranya ialah kesulitan belajar.
II. GANGGUAN PSIKIATRIK
v Retardasi Mental
Kondisi ini ditandai oleh tingkat kecerdasan anak yang berada di bawah rata-rata. Anak akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari sebagaimana anak seusianya, seperti mengurus dirinya sendiri, melakukan pekerjaan rumah atau berinteraksi dengan lingkungannya. o Gangguan Pemusatan Perhatian & Hiperaktivitas. Ciri utama dari gangguan ini adalah kesulitan anak untuk memusatkan perhatian-nya yang timbul pada lebih dari satu situasi, misalnya di rumah, di sekolah dan di dalam kendaraan, dll, dapat disertai atau tidak disertai dengan hiperaktivitas. Gangguan ini disebabkan oleh adanya kelainan fungsi inhibisi perilaku dan kontrol diri. Anak tidak mampu untuk berkonsentrasi pada satu pekerjaan tertentu, dan merencanakan tujuan dari pekerjaan tersebut. Ia tidak mampu menyusun langkah-langkah dalam usaha untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian ia akan mengalami kesulitan dalam menyimak pelajaran yang diberikan gurunya, dan akhirnya ia tidak mengerti apa yang diterangkan oleh gurunya itu. Gangguan Tingkah Laku Pada anak yang mengalami gangguan ini seringkali dikatakan sebagai anak nakal, sulit diatur, suka melawan, sering membolos dan berperilaku antisosial, dll. Anak dengan Gangguan Tingkah Laku ini seringkali mempunyai prestasi akademik di bawah taraf yang diperkirakan. Kesulitan belajar yang terjadi dikarenakan anak sering membolos, malas, motivasi belajar yang kurang, kurang disiplin, dll.
v Gangguan Depresi
Seorang anak yang mengalami Gangguan Depresi akan menunjukkan gejala- gejala seperti :
· Perasaan sedih yang berkepanjangan
· Suka menyendiri
· Sering melamun di dalam kelas/di rumah
· Kurang nafsu makan atau makan berlebihan
· Sulit tidur atau tidur berlebihan
· Merasa lelah, lesu atau kurang bertenaga
· Merasa rendah diri
· Sulit konsentrasi dan sulit mengambil keputusan
· Merasa putus asa
· Gairah belajar berkurang
· Tidak ada inisiatif, hipo/hiperaktivitas Anak dengan gejala-gejala depresi akan memperlihatkan kreativitas, inisiatif dan motivasi belajar yang menurun, dengan demikian akan menimbulkan kesulitan belajar sehingga membuat prestasi belajar anak menurun hari demi hari.
DAMPAK GANGGUAN BELAJAR
Kesulitan belajar yang terjadi pada seorang anak tidak hanya berdampak bagi pertumbuhan dan perkembangan anak saja, tetapi juga berdampak dalam kehidupan keluarga dan juga dapat mempengaruhi interaksi anak dengan lingkungannya. Sistim keluarga dapat mengalami disharmoni oleh karena saling menyalahkan di antara ke dua orang tua. Orang tua merasa frustrasi, marah, kecewa, putus asa, merasa bersalah atau menolak, dengan kondisi ini justru membuat anak dengan kesulitan belajar merasa lebih terpojok lagi. Anak dengan kesulitan belajar seringkali menuding dirinya sebagai anak yang bodoh, lambat, berbeda dan keterbelakang. Mereka menjadi tegang, malu, rendah diri dan berperilaku nakal, agresif, impulsif atau bahkan menyendiri/menarik diri untuk menutupi kekurangan pada dirinya. Seringkali mereka tampak sulit berinteraksi dengan teman-teman sebayanya, dan lebih mudah bagi mereka untuk bergaul dan bermain dengan anak-anak yang mempunyai usia lebih muda dari mereka. Hal ini menandakan terganggunya sistim harga diri anak. Kondisi ini merupakan sinyal bahwa anak membutuhkan pertolongan segera.

4. Problems related to Physical and Mental Health
A. Sleep Disorder
Tidur adalah aktivitas utama otak selama awal tahun perkembangan. Pada usia 2 tahun rata-rata anak telah menghabiskan hampir 10.000 jam (hampir 14 bulan) untuk tidur, dan sekitar 7500 jam (sekitar 10 bulan) dalam melakukan kegiatan. Selama 2 tahun itu, otak telah mencapai 90% dari ukuran dewasa, dan anak telah mencapai kompleksitas luar biasa dalam keterampilan kognitif, bahasa, konsep diri, pengembangan sosioemosional, dan keterampilan fisik. Namun, selama kemajuan kematangan tersebut dalam proses, anak tersebut kebanyakan tidur.
Secara bertahap, pada usia 5 atau lebih, keseimbangan antara tidur dan terbangun lebih seimbang. Namun, pada saat mereka mulai sekolah, anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu tidur daripada interaksi sosial, eksplorasi lingkungan, makan, atau kegiatan bangun lainnya yang dilakukan perorangan. Ternyata, tidur berfungsi sebagai peranan penting dalam perkembangan otak. Peran ini menjelaskan mengapa gangguan tidur dapat mempengaruhi kesehatan fisik, mental dan kesejahteraan secara keseluruhan dan mengapa gangguan tidur adalah  sebuah hal yang penting untuk psikologi anak abnormal.
Gangguan tidur dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :
1.      Dyssomnias
Dyssomnias adalah gangguan memulai atau mempertahankan tidur, ditandai dengan sangat sulit untuk tidur, tidak bisa tidur ketika anda ingin, tidak  merasa segar setelah kembali dari tidur, dan sebagainya.
KELAINAN TIDUR
Penjelasan
prevalensi dan usia
pengobatan
Protodyssomnia
kesulitan untuk mulai atau mempertahankan tidur, atau tidur yang tidak restoratif; pada bayi, terjadi dimana bayi kerap bangun berulang kali dan tidakmampu untuk tertidur.
2,5%-50% dari umur 3 tahun
Alpha
perilaku pengobatan, bimbingan keluarga

Hypersomnia
keluhan kantuk yang berlebihan yang ditampilkan baik sebagai tidur yang berkepanjangan atau tidur siang hari yang berlanjut.
Umunya diantara anak-anak muda
Alpha
perilaku pengobatan, bimbingan keluarga

Narcolepsy
serangan tak tertahankan berupa tidur yang terjadi sehari-hari, disertai dengan episode singkat dari hilangnya otot (cataplexy)
<1% dari anak-anak dan remaja
struktur, dukungan, physchostimulants, antidepresan
breathing-related sleep disorder
gangguan tidur yang menyebabkan kantuk yang berlebihan atau insomnia yang disebabkan oleh kesulitan bernapas saat tidur.
1%-2% dari usia anak-anak prasekolah,dan sekolah dasar.
Menghilangkan tonsil dan adenoid
Circadian rhythm sleep disorder
Gangguan tidur secara berulang yang menyebabkan kantuk yang berlebihan atau insomnia karena ketidaksesuaian antara jadwal tidur-bangun yang dibutuhkan oleh lingkungan seseorang dan siklus tidur nya internal (ritme sirkadian); tidur terlambat (setelah tengah malam), kesulitan bangun di pagi hari , tidur di akhir pekan, ketahanan terhadap perubahan
Tidak diketahui;kemungkinan besar 7% nya dari anak remaja.
perilaku pengobatan,kronotherapi

2.      Parasomnias
Parasomnia adalah gangguan yang agak umum selama awal hingga pertengahan masa anak-anak. Contohnya Nightmares, Sleep Terrors, Sleepwalking.
KELAINAN TIDUR
Penjelasan
Prevalensi dan usia
pengobatan
REM PARASOMNIA



Nightmare disorder
terbangun diulang secara rinci mengingat mimpi yang panjang dan sangat menakutkan, biasanya melibatkan ancaman terhadap kelangsungan hidup, keamanan atau harga diri; umumnya terjadi pada paruh kedua dari periode tidur.
Umunya antara umur 3 sampai 8 tahun.
Kurangi stress dan perbanyak rasa nyaman.
AROUSAL  PARASOMNIAS



Sleep terror disorder
berulang bangun mendadak dari tidur, biasanya yang terjadi selama satu sampai tiga kali periode tidur utama dan diawali dengan jeritan panik;jantung berdetak cepat, berkeringat, tekanan disuarakan, mata berkaca-kaca, sulit untuk bangun, dihibur, bingung; tidak memiliki ingatan saat terbangun di pagi hari.
3% dari anak-anak;18 bulan sampai 6 tahun.
Kurangi stress dan rasa lelah,perbanyak tidur di sore hari
Sleepwalking disorder
berulang bangun mendadak dari tidur dan selama tidur berjalan untuk 5 detik sampai 30 menit,biasanya terjadi pada satu pertiga periode tidur panjang; tidak memiliki ingatan saat terbangun.
1 dari 15% anak-anak;1-6% mendapat 1 dari 4 kemungkinan serangan,umur 4-12 tahun,jarang terjadi pada remaja.
mengambil tindakan pencegahan keselamatan, mengurangi stres dan kelelahan, tambahkan tidur siang sore


D.    Eating Disorder
Feeding disorder adalah kondisi dimana bayi atau anak tidak mau atau menolak untuk makan, atau memiliki kesulitan makan. Feeding disorder dari bayi atau masa kanak-kanak awal ditandai dengan pengurangan berat badan yang tiba-tiba pada bayi atau anak-anak (di bawah 6 tahun) dan perlambatan atau gangguan emosi dan perkembangan sosial. Gangguan ini dapat mengarah pada retardasi fisik dan mental bahkan kematian
Prevalensi dan perkembangan
            Bila tidak diidentifikasi lebih dini, gangguan ini akan menyulitkan karena memiliki efek jangka panjang pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Gangguan ini biasanya terjadi pada anak yang berumur 2 tahun dan dapat berakibat pada malnutrisi dengan konsekuensi perkembangan yang cukup serius, mengarah pada kegagalan untuk tumbuh pesat. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan masalah gangguan ini menjadi lebih serius adalah derajat dan kronisitas dari malnutrisi, derajat dan kronisitas dari penundaan perkembangan, keparahan dan durasi dari masalah hubungan bayi-perawat (Drotar, 1991)
Penyebab perlakuan
Etiologi dari feeding disorder telah dipelajari dari perspektif biologis dan psikososial, dan kesimpulan terbaik saat ini adalah bahwa banyak faktor resiko berinteraksi mempengaruhi bagaimana anak beradaptasi dengan level tertentu dari penerimaan kalori, dan mempengaruhi apakah anak tersebut menampilkan perkembangan tingkah laku normal atau abnormal. Gangguan ini sejak lama berkaitan dengan keluarga yang tidak beruntung, kemiskinan, pengangguran, isolasi social, dan orang tua yang sakit mental.
Eating disorder pada ibu diidentifikasi sebagai faktor beresiko yang spesifik untuk terjadinya eating disorders atau feeding disorders pada bayi. Kegagalan anak untuk tumbuh pesat pada ulang tahun pertama mereka diasosiasikan dengan ibu yang memiliki sejarah anorexia nervosa dan sikap serta kebiasaan makan ibu yang terganggu. Karena hubungan ibu-anak selama tahapan awal dari pembentukan attachement sangat kritis, eating disorders yang ditunjukkan oleh bayi dan anak-anak bisa saja merupakan simptom dari masalah fundamental pada hubungan ini (Lyons-Ruth et al., 1996).
Pengobatan
Feeding disorder dapat ditangani oleh orang tua dengan cara mengontrol makan si anak dan berkonsultasi ke nutritionist atau mengunjungi gastroenterologist.
-          Pica
Pica adalah pengunyahan substansi yang tidak boleh dimakan, seperti rambut, serangga, atau potongan cat (di tembok) dan secara langsung mempengaruhi anak kecil mereka yang menderita retardasi mental. Anak-anak penderita pica tetap tertarik untuk memakan makanan biasa (normal), namun mereka tetap mengkonsumsi benda yang tidak boleh dimakan.
Gangguan ini berawal selama masa bayi dan berakhir dalam beberapa bulan, pada saat ia memutuskan untuk tidak melakukannya lagi atau dengan bantuan yaitu dengan menambahkan stimulasi pada bayi dan meningkatkan kondisi lingkungan. Pada individu dengan retardasi mental, pica dapat berlangsung sampai masa remaja sebelum akhirnya berkurang secara gradual.
Seorang bayi atau anak-anak yang memakan substansi yang tidak boleh dimakan dan tidak bernutrisi dalam perode 1 bulan atau lebih lama dapat memiliki masalah serius (Linscheid & Murphy, 1999).
Prevalensi dan perkembangan
Pica lebih umum terjadi pada anak-anak dan orang dewasa yang berada di suatu institusi, terutama orang dengan kerusakan parah dan retardasi mental. Di antara anak-anak dan orang dewasa dengan ketidakmampuan intelektual, kelaziman pica memiliki range dari 0,3 %-14,4% dalam komunitas, dan 9%-25% dalam institusi (Ali, 2001). Derajat keparahan berkaitan dengan derajat deprivasi lingkungan dan retardasi mental pada penderitaan individu yang didapat dari bentuk pica yang lebih ekstrim.
Penyebab dan perlakuan
Menurut sejarah, pada abad 18 dan 19, para gadis seringkali memakan limau, batu bara, cuka, dan kapur, karena substansi ini dipercaya dapat menghasilkan warna kulit pucat yang sedang trend waktu itu. (Parry-Jones & Parry-Jones, 1994). Jadi, pica dilakukan untuk mengikuti trend pada masa itu.
Para peneliti bahwa terjadi kekurangan vitamin atau mineral diantara penderita pica, meskipun belum bisa dijelaskan hubungan sebab-akibatnya. Apakah pica disebabkan karena kekurangan vitamin ataukah pica menyebabkan kekurangan vitamin dan mineral. Selain itu, faktor genetik juga memainkan peranan pada etiologi dari gangguan ini. Pica pada masa kanak-kanak membentuk factor resiko untuk perkembangan bulimia di masa remaja.
Pengobatan
Kebanyakan intervensi klinis untuk anak penderita pica menekankan prosedur operant conditioning, dimana perawat ditunjukkan bagaimana me-reinforce anak untuk tingkah laku yang diharapkan seperti mengeksplor kamar atau bermain dengan objek. Bentuk positif dari perhatian, termasuk tersenyum, tertawa, dan mengelitik, menyediakan stimulasi tambahan dan menguntungkan, karena gangguan ini sering berkaitan dengan interaksi yang tidak cukup baik dengan perawat (L. burke & smith, 1999). Perawat juga diajarkan untuk menjaga lingkungan anak tetap rapi dan memindahkan atau menyimpan substansi berbahaya dengan aman.
-          Failure to Thrive (FTT)
Failure to Thrive (FTT) adalah gangguan pertumbuhan yang berkaitan dengan gangguan pemberian makanan awal, yang dapat memiliki konsekuensi parah pada perkembangan fisik dan psikologis anak. FTT ditandai dengan berat badan di bawah percentile 5 pada usia tertentu dan/atau penurunan paling tidak 2 standard deviasi pada rata-rata kenaikan berat badan dari lahir hingga sekarang, menggunakan grafik standar pertumbuhan untuk perbandingan (Budd et al., 1992; lyons-ruth et al., 1996).
Penyebab
Kontroversi utama memfokuskan pada signifikansi deprivasi emosional (kekurangan kasih sayang) dan malnutrisi (kekurangan makanan). Penyelidik menyatakan bahwa bayi dengan FTT kekurangan stimulasi dan kasih sayang dari ibunya, yang menghasilkan kesengsaraan emosi, penundaan perkembangan, dan perubahan fisik.
Pada suatu studi, ibu dengan anak yang didiagnosa FTT ditemukan lebih tidak merasa aman daripada ibu yang anaknya normal. Mereka lebih pasif dan bingung, juga marah secara intens ketika berdiskusi tentang hubungan kedekatan di masa lalu dan sekarang atau menghilangkan kedekatan, menganggap hal itu tidak penting dan tidak berpengaruh (Benoit, Zeanah, & barton, 1989).
Berbagai penemuan yang meneliti tentang FTT ini memperkuat dugaan bahwa gangguan makan dan pertumbuhan selama masa bayi awal berkaitan erat dengan kualitas yang kurang baik dari kedekatan perawat-anak, yang kemungkinan merefleksikan perlakuan yang tidak sensitive yang diterima dari perawat ketika ia kecil. Kemiskinan, ketidakteraturan keluarga, dan dukungan social yang terbatas juga berkontribusi terhadap kemungkinan adanya malnutrisi dan kegagalan pertumbuhan, seperti yang terjadi pada bayi yang sulit diberi makan dan diasuh karena temperamen dan penyakit fisik akut (Budd et al., 1992; Drotar, 1991).
FTT pada usia dini dapat mempengaruhi pertumbuhan fisik pada anak-anak, tapi tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa ini mempengaruhi fungsi kognitif di masa yang akan datang (Boddy, Skuse, & Andrews, 2000; Drewett, Corbett, & Wright, 1999; Mackner Black, & Starr, 2003).
-          Obesitas
Obesitas pada anak dipertimbangkan sebagai kondisi medis kronis yang mirip dengan hipertensi atau diabetes. Obesitas ditandai oleh lemak tubuh yang berlebihan. Obesitas biasanya didefinisikan dalam istilah body mass index (BMI), secara esensial merupakan perbandingan berat badan dan tinggi badan, yaitu di atas persentil 95, berdasarkan norma untuk usia dan jenis kelamin anak.
Anak dan remaja yang mengalami obesitas memiliki kemungkinan lima kali lebih besar daripada anak sehat untuk mengalami kualitas hidup yang buruk, serupa dengan anak yang menderita kanker (Schwimmer, Burwinkle, & Varni, 2003). Banyak anak dan orang dewasa yang mengalami obesitas menderita akan konsekuensi dari sikap budaya barat yang menyamakan daya tarik dan kompetensi dengan kelangsingan.
Pada tingkat pertama, anak-anak lebih tidak menyukai berteman dengan teman yang mengalami kelebihan berat badan (Goldfield & Chrisler, 1995) dan sikap ini semakin instensif selama remaja (Striegel-Moore et al., 2000). Hal ini akan memengaruhi perkembangan psikologis si anak.
Prevalensi dan perkembangan
Walaupun obesitas selama masa bayi dan setelah masa anak-anak tidak secara kuat berkaitan, munculnya obesitas masa kanak-kanak memiliki kemungkinan untuk bertahan hingga remaja dan dewasa. Individu yang mengalami obesitas harus memperhatikan kesehatan khususnya masalah cardiovascular dan peningkatan kolesterol serta triglycerides yang menjadikan obesitas sebagai faktor mayor yang mengakibatkan kematian orang dewasa di Amerika Utara (Katzmarzyk & Ardern, 2004).
Obesitas pada masa pra remaja merupakan faktor resiko pada kemunculan gangguan makan, khususnya untuk perempuan, secara utama merujuk pada perlakuan dimana anak-anak cenderung menolak atau mengejek teman sepermainan mereka yang mengalami obesitas.
KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN EMOSI PADA ANAK-ANAK
Menurut Hurlock, bentuk-bentuk dari  hambatan perkembangan anak itu terbagi dalam 3 kategori besar, yaitu :

1. Behavior Problem (Problem Perilaku)
Hambatan ini tidak terlihat sebagai suatu problem, tidak merugikan orang lain, namun dapat merugikan perkembangan diri si anak, dan masih dalam taraf ringan.Contoh dari hal ini adalah ngemut jempol atau eating problem.

2. Behavior Disorder
Perilaku yang menyimpang bila dibandingkan anak seusianya, ini sudah agak berat karena sudah tergolong merugikan diri sendiri dan orang lain. Selain itu, sudah butuh bantuan penanganan orang lain yang lebih ahli, seperti dokter, psikolog, dan lain-lain. Hal ini dapat disebabkan oleh gangguan pusat saraf (contohnya conduct disorder), atau bisa juga disebabkan oleh gangguan psikis (contohnya trauma atau stress yang mengakibatkan anak mengalami school refusal).

3. Behavior Maladjusting
Perilaku yang keliru yang dilakukan anak-anak untuk mengatasi tuntutan dari lingkungan maupun dari dalam dirinya sendiri, juga merupakan kompensasi yang negatif, namun sifat perilaku tersebut biasanya hanya sementara dan dalam penyelesaiannya butuh bantuan seorang ahli. Hal ini dapat disebabkan oleh tuntutan yang terlalu tinggi kepada anak tersebut juga bisa dikarenakan factor dalam diri anak itu sendiri, seperti ia merupakan individu yang belum mempunyai cara yang baik dalam penyelesaian masalah. Contohnya keadaan seorang anak yang tergolong troublemaker di kelasnya, hal tersebut dapat diakibatkan dari tuntutan orang tuanya yang ingin anaknya menjadi peringkat pertama di kelasnya. Anak tersebut malah memenuhi tuntutan orang tua dengan menjadi penguasa di kelasnya, karena dalam pikirannya jika ia menjadi penguasa di kelasnya, maka ia bisa menjadi juara pertama di kelas tersebut.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar