Rabu, 18 Juni 2014

review jurnal “Is Insecure Parent-Child Attachment A Risk Factor For The Development Of Anxiety In Childhood Or Adolescence?”

PEMBAHASAN
Keterikatan(attachment) adalah ikatan emosional abadi dan resiprokal antara bayi dan pengasuhnya,yang sama-sama memberikan kontribusi terhadap kualitas hubungan bayi-pengasuh.Hubungan antara orang tua dan anak memengaruhi perkembangan emosional dan sosial anak tersebut.Anak yang memiliki keterikatan yang aman menjadikan orang tuanya sebagai pelindung dan kognitif tentang diri mereka berkembang ke arah positif.Keterikatan pertama terbentuk sejak tahun pertama kehidupan seorang anak,keterikatan penting untuk perkembangan kesehatan sepanjang rentan kehidupan,pada dasarnya orang tua berperan sebagai dasar dari keterikatan yang aman(secure attachment base) tetapi karena keterikatan terus berlanjut orang tua melanjutkan fungsi sebagai figure keterikatan primer untuk anak sampai anak memasuki tahap pre adolescene.
Melalui pengamatan oleh Ainsworth dan Bowlby pada saat bayi dan ibu berinteraksi,si bayi membangun “model kerja” berkenaan dengan apa yang dapat diharapkannya dari si Ibu.Model kerja keterikatan bayi berkaitan dengan konsep kepercayaan dasar Erikson.  
Berdasarkan teori keterikatan yang menyatakan bahwa keterikatan yang aman akan memberikan bantuan besar bagi anak dalam menghadapi tantangan sosial dari lingkungannya dan mengembangkan perkembangan yang lebih kepada arah positif.Sebagai contoh:Misalnya melalui interaksi keterikatan yang aman anak mempelajari interaksi sosial secara kompeten dan mampu mengontrol emosi mereka.
Anak yang memiliki keterikatan yang aman umumnya mampu beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.Mereka umumnya lebih tanggap,sensitif,dan mampu beradaptasi karena keterikatan yang aman merefleksikan rasa percaya,sedangkan anak dengan keterikatan yang tidak aman  merefleksikan ketidakpercayaan sehingga mereka pada umumnya menderita kecemasan(Anxiety).

Bowlby(1973) menyarankan bahwa anak-anak bisa mengalami kecemasan(anxiety) ketika mereka ragu akan ketersediaan figur keterikatan(figur lekat).Berdasarkan dua pengamatan meta-analisis keterikatan orang tua-anak diambil sebuah kesimpulan bahwa keterikatan yang tidak aman diasosiasikan/dihubungkan dengan level yang lebih tinggi pada kecemasannya atau internalisasi masalah.Keterikatan yang tidak aman pada umumnya terjadi ketika anak tidak mampu menjadikan orang tua/pengasuhnya sebagai dasar aman dan tempat pelindung,dan memiliki kepercayaan negatif tentang ketersediaan figur keterikatannya(figur lekat).
Anak dengan keterikatan yang dihindari(avoidant attachment)dapat lebih percaya dan mempertahankan emosi dari penolakan akan pemberian kepeduliaan.Keterikatan yang ambigu secara kronis tidak percaya akan ketersediaan figur keterikatannya(figur lekat).Anak dengan keterikatan yang ambigu pada umumnya cenderung cemas karena mereka khawatir akan ketersediaan figur keterikatannya.Secara alternatif,beberapa peneliti  mengamati bahwa anak dengan keterikatan yang tidak terarah merasa diri mereka tidak berdaya,mudah diserang,takut dan tidak dapat merasa terlindungi,anak dengan keterikatan seperti inilah yang yang paling berisiko mengalami masalah internal termasuk kecemasan.Pada umumnya anak dengan keterikatan Ambivalent,Avoidant,Disorganized mempengaruhi anak untuk mengembangkan kecemasan pada level yang berbeda.
Alasan dari keterikatan yang tidak aman mengembangkan kecemasan belum jelas.Beberapa studi mendapatkan hasil yang berbeda.Kekurangan rasa dasar aman mungkin menyebabkan kecemasan(Bowlby,1973).Tetapi berdasarkan hipotesis kompeten anak dengan keterikatan yang tidak aman kurang dalam lingkungan sosial dan emosi yang mungkin berkontribusi pada kecemasan dan pengalaman(kesulitan yang dihadapi pada teman sebaya).
Ada hubungan antara regulasi emosi dan kompeten teman sebaya terhadap keterikatan dan kecemasan.Kecemasan merefleksikan kesulitan dalam mengontrol emosi yang naik dan intensitas pengalaman akan emosi yang negatif.Anak yang cemas tetap mengontrol emosi mereka,tetapi proses dalam pengontrolan emosi tersebut yang tidak efektif.

Hubungan pertemanan juga berperan pada kecemasan anak yang keterikatannya tidak aman karena mereka merasa diri mereka kurang kompeten dibanding temannya,dan menjadi korban dari teman-temannya dan memiliki kesulitan dalam hubungan pertemanan dan cinta(Brumariu et al,2013,Kingery,Erdley,Marshall,Whitaker,&Reuter,2010).
REFERENSI:
Papalia,Diane E.2010.Human Development Edisi Kesembilan.Jakarta:Kencana.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar